Matinya Idealisme Marx

June 5th, 2008 by zheenchan

Tesis Tentang Feuerbach: Kematian Idealisme dan Akhir Materialisme Bojak serta
Humanisme Marx

Antara  Naskah-Naskah Paris 1854   dan   Ideologi Jerman,   
suatu karya  Marx yang sohor dan monumental  serta menentukan perkembangan
pemikirannya selanjutnya, yaitu  Tesis Tentang Feuerbach,  secara  spektakular 
muncul. (Gidden 1986: 25). Dalam karya ini Marx, dengan ‘ketajaman  ilmiah’ 
dan  ‘sikap yang rigorus dan antusias’ mengritik  L. Feuerbach  mengafirmasikan 
sikap  dan ketetapan  hati untuk  berpegang pada  materialisme.  Idealisme
Hegel,  yang didaulat  berjalan  dengan  kaki terbalik, digantikan dengan  kaki
tegak menyerbu langit. Perpisahan  idealisme dengan materialisme  menjadi 
tuntas  atau definitif. 

Demikianlah perdebatan  hangat dan serius
dalam  Klub Doktor,  dimana  Marx sebagai anggota,  -  sikap  “antara”   
Feurbach, tokoh  sohor  Hegelian Muda dari faksi  Hegelian Kiri, sebagai
‘materialisme  bojak’ sarat dengan keraguan-raguan, -  kendatipun  berorientasi
antropologik, empiris dan   anti-religius  -  secara  meyakinkan disudahi Marx. 
Buku ini sekaligus merupakan lonceng kematian bagi idealisme Hegel dan juga satu
pukulan telak terhadap sikap semi mistik  Feuerbach. Dengan buku ini Marx juga
mendeklarsikan  kemenangan  mutlak bagi  materialisme yang telah diangkat
Feurbach sebelumnya dalam bentuk materialisme bojak ke singgasana manusia.
Naskah Naskah Paris didalamnya Tesis Tentang Feurbbach  termaktub  kepedulian
Marx terhadap manusia  dan ketakziman terhadap nilai-nilai humanitas
tereksplisitaskan.      

Buku ini adalah  suatu maklumat filosofis yang
menentukan   bagi perkembangan pemikiran Marx  sampai masa tua, sekaligus
menjadi wacana Marxisme. Dalam buku tersebut Marx menampilkan  hasil
pergulatannya  yang intens tentang materialisme yang telah dimulai semenjak
disertasi doktoralnya tentang materialisme dan Demokritos, dan sikap kritis
terhadap Feurbach. Sikap kritis Marx ini selanjutnya diwariskan  kepada generasi
pertama teori kritis Marxisme, Karl Korsch  dan  George Luckack, kepada 
generasi  kedua, Mazhab Frankfurt Adorno dan  Hoikheimer, dan kepada generasi
ketiga dengan teori komunikasi Jurgen Habermas pada  abad XX. (Pembagian
generasi teori kritis ini berasal dari saya  sendiri, yang berbeda  dari
kategorisasi lazim, yaitu hanya  dua generasi  seperti yang  lazim digunakan
dalam literatur Marxist. Pen. ). 

Adapun  sikap tegas dan korektif Marx
yang tertuang dalam Tesis Tentang Feuerbach, antara lain:  Pertama-tama,
pendekatan  Feurbach didaulat  bersifat a-historis. Marx menuduh  Feuerbach
masih terjebak dalam  sifat  mistik   Hegelian,  dan masih menempatkan manusia
sebagai  sesuatu yang abstrak yang  mendahului masyarakat.  Kekeliruan lainnya,
terlihat dalam cara  gegabah dan kontroversial Feuerbach, bahwa ia tidak hanya
menurunkan manusia  menjadi orang saleh, akan tetapi  gagal melihat  bahwa  rasa
saleh itu sendiri merupakan  produk sosial, dan bahwa  manusia  abstrak  yang
menjadi pusat analisisnya masih tergolong dalam satu bentuk  masyarakat 
tertentu.  Materialsime Feurbach  juga masih tetap berada  pada tataran 
doktrinal filsafat, yang menganggap perangkat gagasan merupakan kontemplasi
kenyataan materil, sebagai yang terkuduskan  dan determinan terhadap  kegiatan
manusia.
    
Pada kenyataannya, ada suatu hubungan resiprokal antara
kesadaran dan praxis manusia. Feurbach seperti halnya dengan semua ahli filsafat
materialis terdahulu memperlakukan kenyataan  materil  sebagai sesuatu yang
menentukan  kegiatan manusia, dan tidak menganalisa  modifikasi dunia obyektif 
dengan subyeknya, yaitu  dengan kegiatan manusia.  Dengan kata lain, Marx  juga
membuat titik  persoalan  yang sangat  krusial. Dikatakan bahwa doktrin
materialistis Feurbach  tidak memiliki kapabilitas untuk menangani fakta.
Kegiatan  revolusioner  adalah hasil dari tindakan tindakan manusia yang
dilakukan dengan sadar sesuai dengan yang dikehendakinya.  Feuerbach sebaliknya 
menggambarkan  dunia ini  dalam kaitan  pengaruh sejarah kenyataan  materi dan
gagasan gagasan. Akan tetapi ia lupa bahwa keadaan  diubah oleh manusia. Dengan 
istilah  keadaan yang  diubah tersebut  Marx  menganologikannya  dengan “sang
pendidik  harus dididik”. Di sini Marx maju  selangkah dan meninggalkan
Feurbach   denga filsfat antropologinya. Namun demikian harus diakui, demikian
Marx, Feurbach  berhasil menggeserkan filsafat Hegel tidak lain adalah agama
yang diseludupkan ke pikiran dan dikembangkan  oleh pikiran dan sama saja harus 
dikutuk seperti halnya  dengan suatu bentuk dan cara  lain dari adanya 
keterasingan. Akan tetapi dengan bertindak demikian, Feuerbach mengemukakan 
suatu materialisme  bojak, atau  meminjam  Gidden menyebutnya  sebagai 
materiallisme   tafakur atau materialisme pasif. Ia juga  berkontemplasi
cemerlang  terutama dalam mengabaikan  penekanan dialektika  Hegel  yang
berkutat diseputar roh, manusia abstrak dan  dari hal yang negatif sebagai
prinsip penggerak dan pencipta. (Gidden, 1986 : 26).      

Dalam
Hakekat  Agama Kristen,  Feuerbach menempatkan  materialisme  kembali ke atas 
tahta. Alam adalah dasar  yang diatasnya manusia adalah hasil dari alam. Tidak
ada  yang ada  di luar alam dan manusia, dan mahluk  halus yang tercipta oleh
fantasi agama adalah pencerminan  fantastik dari hakikat manusia. Marx
terpengaruh oleh Feuerbach. Pemikiran materialisme yang telah dirintis oleh
Feuerbach  selanjutnya dituangkan dalam  Keluarga Suci dan Ideologi Jerman. 
David Strauss dalam  Kehidupan Jesus, terbit pada tahun 1835, mengatakan bahwa
terjadinya mitos di dalam kitab kitab Injil kemudian diserang oleh Bruno Bauer
dengan pembuktian bahwa seluruh  seri cerita  penyebaran  agama  nasrani  adalah
hasil  rekaan  penulisnya sendiri. Pertentangan  antara  keduanya  berlangsung
dengan  berkedokkan filsafat,  berupa  perjuangan  antara  kesadaran  dan
perjuangan,  antara  kesadaran  dan zat.  Masalah apakah  cerita-cerita mujizat
di dalam kitab Injil terjadi lewat penciptaan mitos di bawah lapisan tak sadar
di tengah-tengah masyarakat. Stirner, nabi anarkisme zaman itu. Bakunin telah
mengambil banyak pemikiran  mitosisasi Strauss  selanjutnya dibakukan dalam 
upaya  untuk menutupi  mitosisasi dan historisasi dengan egonya yang berdaulat.
(Engels , 2000: 18-19).

Filsafat oleh Marx digeserkan ke tataran
praxis,   yaitu suatu aktivitas  sadar manusia sebagai mahluk sosial. Sebagai
bagian dari alam  manusia merealisasikan  diri melalui kerja.  Filsatat
materialisme  yang lahir dari kandungan  pemikiran Hegel dan  yang menampatkan
manusia sebagai yang abstrak, dan  filsafat materialisme Feuerbach yang masih
berkutat pada tataran  agamawi, oleh Marx   digeserkan   mejadi dasar pemahaman
realitas dan manusia.  Diawali dengan rasa geram terhadap materialisme  bojak
Feurbach, Marx mendeklrasikan suatu maklumat  kematian filsafat sebagai  wacana
kontemplasi dan  selanjutya  tertasbihkan  sebagai  wacana  praxis.  Demikianlah
idealisme digantikan oleh materialisme merupakan titik tolak pemahaman tentang
manusia dalam  fitrahnya sebagai  mahluk kesadaran di tengah-tengah  alam.
Pendirian materialisme Marx  secara  lugas  tertuang dalam Tesis Tentang
Feuerbach.

Sebagai derivat  idealisme, materialisme  Feuerbach  yang
masih diselimuti oleh  dupa  mistik secara radikal oleh Marx ditransplantasikan
ke daratan materialisme. Dengan materialisme  filsafat  bukan  lagi dipahami
sebagai medan ekspresi, sebagai wacana pertarungan ide dan epistemologi ilmu
pengetahuan, akan tetapi secara  radikan dan mendasar berubah menjadi  saran
emansipasi manusia.

Emansipatoris  Marx secara telak   mengakhiri
filsafat idealisme  Hegel  dengan suatu proklamasi   afirmatif visisoner   
filsafat materialisme   pada frasa  XI  Tesis Tentang Feuerbach mengatakan bahwa
: “para filsuf selama ini sibuk dalam penafsiran dunia dengan berbagai cara 
pada  hal yang terpenting adalah bagaimana mengubah dunia”,  adalah  proklamasi 
paling   akbar  dan dahsyat dalam sejarah pemikiran dan filsafat.

Untuk 
lebih memahami  akar materialisme dan praxis Marx, yang menyemangati semangat 
manusia Promotheusan,   yaitu yang mendudukkan manusia sebagai  penentu
sekaligus arsitek dunia dan dirinya secara otonom  terlepas dari  dominasi dan
hegemoni Tuhan, yang telah menjadi obsesi Marx semenjak awal.  Suatu  paparan
tentang  Tesis  Tentang Feurbach barangkali berguna untuk memahami   konsep
materialisme  dan humanisme Marx. .

Thesis  Tentang Feuerbach *)

I

Kekurangan  utama  dari   
semua  materialisme yang ada sampai  sekarang  (termasuk materialisme 
Feuerbach) adalah bahwa obyek, kenyataan, apa yang kita tangkap melalui panca
indra, hanya dapat dipahami  dalam bentuk  obyek atau kontemplasi ; tetapi bukan
sebagai  aktivitas  pancaindra manusia, sebagai praktis, bukan sebagai yang
subjektif, bertentangan   dengan materialisme, dikembangkan oleh  idealisme,
tetapi hanya  secara abstrak, karena  bertentangan dengan  materialisme, sisi 
aktif dikembangkan secara abstrak oleh idealisme, tentu saja tidak  mengetahui
akan aktivitas pancaindra yang nyata sedemikian itu.  Feuerbach membutuhkan
benda-benda  kepanca-indraan, yang benar-benar  dibedakan dari  benda-benda
pikiran, tetapi ia  tidak mengartikan aktvitas manusia  itu sendiri sebagai
aktivitas obyektif. Oleh karena itu, dalam  Hakikat Agama Kristen, dia
memandang  sikap teoritik sebagai satu-satunya  sikap manusia yang sejati,
sedangkan praktek digambarkan sebagai, dan ditetapkan  hanya dalam  bentuk
penampakannya yang bersifat kejahudian dan kotor. Karena itu   dia tidak 
menangkap  arti penting aktivitas ‘revolusioner’, aktivitas
‘kritis-praktis’.

II

Pertanyaan apakah pikiran
manusia  dapat menangkap kebenaran obyektif bisa  ditangkap bukanlah soal
pertanyaan teoritis  melainkan suatu pertanyaan praktikal. Manusia harus 
membuktikan  kebenaran itu, yaitu   realitas  dan kekuatan, kesegian 
pemikirannya   dalam praktis.  Perdebatan  mengenai  kenyataan atau 
non-realitas  pemikiran yang terasing dari praktik  adalah  pertanyaan skolastik
semata-mata.

III

Doktrin materialis 
mengenai  perubahan  (lingkungan) manusia   dan pendidikan  melupakan bahwa 
lingkungan  diubah oleh manusia  dan  bahwa  pendidik   harus dididik.  Doktrin
ini  membagi  masyarakat kedalam dua bagian,  dimana salah satu lebih tinggi
dalam masyarakat. Seiring  dengan perubahan  lingkungan  dapat dikomprehended
dan  aktivitas manusia  atau  perubahan diri dapat dimengerti dan  secara
rasional dipahami  hanya  diketahui  sebagai  praktis revolusioner.

IV

Feuerbach bertolak dari
kenyataan pengasingan  diri  relgius, dari   duplikasi  dunia  kepada  dalam
suatu dunia rteligius dan dunia  sekuler. Pekerjaannya berupa melebur dunia
religius kedalam  basis sekulernya. Tetapi kenyataannya  bahwa  basis sekuler 
mengangkat dirinya sendiri di atas  dirinya sendiri dan menetapkan  bagi
dirinya  suatu  ranah independen dalam kekaburan dapat dijelaskan  hanya
melalui   perpecahan  dan  kontradiskisi diri dari basis sekuler.  Karena itu
yang tersebut belakangan  itu sendiri dulu harus  dipahami dalam kontradiksinya 
dan kemudian, dengan  ditiadakannya kontradiksi itu,  direvolusionerkan  dalam
praktek.  Dengan begitu, misalnya, sekali keluarga duniawi itu ditemukan sebagai
rahasia  dari keluarga suci,  maka yang  disebutkan   lebih dahulu  tersebut
harus dikritik dalam teori serta direvolusionerkan dalam
praktek.

V

Feuerbach tidak puas dengan
pemikiran abstrak, berpaling kepada  kontemplasi kepanca-indraan, tetapi dia 
tidak menganggap  kepanca-indraan sebagai aktivitas praktis, aktivitas 
pancaindra manusia.

VI

Feuerbach melebur hakikat
keagamaan kedalam  hakikat manusia. Tetapi hakikat manusia bukanlah abstraksi
yang terdapat pada masing masing individu terpisah . Dalam kenyataannya ia
adalah keseluruhan dari relasi-relasi sosial. Oleh karena itu, Feuerbach yang
tidak ingin memasuki kritik lebih dalam terhadap hakikat yang nyata itu
terpaksa:

1). Mengabstraksikan  dari proses  sejarah dan  menetapkan 
sentimen keagamaan sebagai sesuatu yang dengan sendirinya   dan mengandaikan   
perorangan  manusia  abstrak, yang terisolir.

2). Karena itu, baginya 
hakikat  kemanusiaan bisa  dimengerti  hanya  sebagai jenis  sebagai suatu 
keumuman  intern bisu yang hanya dengan wajar mempersatukan perorangan yang
banyak itu.

VII

Oleh karenanya, Feuerbach
tidak melihat  bahwa ‘sentimen sentimen’  religius itu  sendiri adalah suatu 
produk sosial, dan bahwa   individu abstrak yang dianalisinya   adalah milik
dari bentuk khusus  masyarakat.

VIII
 

Segenap  kehidupan sosial pada hakikatnya  adalah 
praktis.  Segala  misteri  yang mengarahkan teori  ke dalam mistikisme 
menemukan  solusi rasional  mereka  dalam  praktik  manusia  dan secara 
menyesatkan  membawa  teori kepada  mistik menemukan pemecahannya yang rasional 
dalam praktek manusia dan dalam  pemahaman  praktek itu.

IX

Titik tertinggi yang dicapai
oleh materialisme kontemplatif, yaitu materialisme  yang tidak memahami
kepanca-indraan sebagai  aktivitas praktis, adalah  kontemplasi  individu dan 
masyarakat sipil.

X

Pandangan materialisme lama
adalah masyarakat sipil, sementara pandangan  materialisme baru adalah 
masyarakat manusia, atau umat manusia yang
bermasyarakat.

XI
Para ahli filsafat hanya  menafsirkan  dunia, dengan
berbagai cara;  akan tetapi yang terpenting adalah mengubahnya.   
Catatan
 
*)  Saya terjemahkan dari  buku  Kamenka Eugene,   The 
Portable Karl Marx. Penguin Books

Sumber

Gidden,
Anthony, Kapitalisme dan Teori Sosial. Suatu analisis kaya tulis Marx, Durkheim
dan Max Weber.  Penerbit Universitas Indonesia (UI Press) Salemba,
1986.
Kamenka, Eugene. The  Portable Marx.  Penguin Books. 1983
Engels,
Frederich. Feuerbach  dan Akhir Filsafat Jerman.  Penerbit : Teplok Press,
2203.

Sumber: http://meontology.blogdrive.com/

//

<!–
.quote {width:350px; padding: 6px; border: solid 1px #456B8F; font: 10px helvetica, verdana, sans-serif; color: #222222; background-color: #ffffff}
.quote a {font: 13px arial, serif; color: #003399; text-decoration: underline}
.quote a:hover {color: #FF9900; }
–>

Marxisme dan Aksi

June 5th, 2008 by zheenchan
Demonstrasi-demonstrasi anti-kapitalisme belakangan ini telah
menyatukan banyak kelompok-kelompok yang berbeda untuk melawan pengrusakan
lingkungan hidup, rasialisme, eksploitasi negara ketiga, dan juga banyak kaum
muda yang memprotes semua keadaan secara umum. Mereka sudah menghancurkan mitos
bahwa semua orang bahagia dan bahwa sistem kapitalisme sudah diterima sebagai
satu-satunya bentuk kemasyarakatan.

Kita melihat di sekeliling kita
kesengsaraan yang disebabkan oleh sistem ini. Kelaparan, perperangan,
pengangguran, tunawisma, dan keputusasaan, ini semua adalah tindak kekerasan
yang disebabkan oleh sistem ini terhadap jutaan manusia setiap harinya. Melihat
dan mengalami kehancuran dan kekacauan tersebut, kaum muda dimana saja terdorong
untuk memprotes.

Akan tetapi, keterlibatan di dalam organisasi politik
tidaklah diminati oleh banyak kaum muda, yang dapat dimengerti ingin melakukan
sesuatu, dan melakukannya sekarang juga. Kenyataannya, usaha untuk
mempertentangkan organisasi, diskusi dan debat dengan ‘aksi langung’ (direct
action)
adalah menyesatkan. Ide-ide Marxisme bukanlah merupakan subjek
studi akademis, mereka adalah petunjuk untuk aksi. Kita semua mendukung aksi,
tetapi aksi haruslah direncanakan dengan matang, dengan tujuan yang nyata dan
objektif bila ingin berhasil. Jika tidak, kita akan berakhir dengan aksi tanpa
arah. Selain itu, tanpa organisasi politik, siapakah yang menentukan aksi apa
yang akan diambil, kapan dan dimana?

Tidak ada aksi yang lebih besar
daripada mengambil alih kontrol kehidupan kita melalui mayoritas masyarakat. Di
dalam aksi tersebut, terdapat intisari daripada revolusi. Bukan hanya aksi tanpa
tujuan, tetapi aksi massa yang demokratis dan sadar, perjuangan bukan hanya
melawan kapitalisme, tetapi perjuangan untuk masyarakat yang baru,
sosialisme.

Demonstrasi baru-baru ini pada May Day (hari buruh sedunia –
catatan penerjemah) digunakan oleh media para bos-bos untuk mengobarkan histeria
sampah mereka. Mereka membesar-besarkan aksi corat-coret pada monumen bersejarah
dan patung Churchill. Akan tetapi, pembesar-besaran tersebut terhenti oleh
berita bahwa individu yang bersalah bukanlah seorang perusuh, melainkan bekas
angkatan laut yang sekarang belajar di Universitas Anglia di Cambridge (sebuah
universitas ternama di Inggris – catatan penerjemah). Berdiri di hadapan hakim,
dia mengantarkan sebuah pidato mengutuk imperialisme dan sikap anti-Yahudi dari
Churchill. Pidato tersebut mempengaruhi sang hakim, yang menunjukkan posisi
kelasnya dengan mengejek eks-tentara muda tersebut karena ketergantungannya pada
pinjaman mahasiswa, “kau lihat sendiri, kamu tidak bisa hidup tanpa kapitalisme”
ujar sang hakim.

Juga tampak bahwa seorang murid dari sekolah Eton
(sekolah menengah yang sangat ternama di Inggris) ikut serta dalam pemecahan
kaca di restoran McDonalds. Ini adalah gejala sebuah masyarakat yang sudah
menemui jalan buntu, bukan hanya kelas pekerja dan kaum muda kelas menengah yang
memberontak, bahkan lapisan kelas atas pun memberontak.

Jadi, bagaimana
kelanjutannya? Pengorganisir demo tersebut mengatakan kepada kita bahwa ini
bukanlah protes untuk mengamankan perubahan, perubahan kecil (reform)
ternyata hanyalah buang-buang waktu. Tidak, cukup dengan ikut serta dalam apa
yang mereka sebut “karnival” kita akan menjadi orang yang lebih baik, dan
akhirnya semakin banyak orang yang akan ikut serta, sampai sebuah massa kritis
tercapai dan kita semua tidak menghiraukan kapitalisme, tidak membayar tagihan
kita, sampai semuanya hilang. Sungguh sebuah mimpi yang kekanak-kanakan! Maksud
baik mereka yang memprotes tidaklah dipertanyakan. Akan tetapi, banyak maksud
baik tersebut membuka jalan ke neraka. Apakah kita benar-benar percaya bahwa
bila kita semua ‘menempatkan diri kita di luar kapitalisme’, para bos-bos tidak
akan berbuat apapun untuk mempertahankan sistem mereka? Taktik burung unta ini
dimana kita mengubur kepala kita di dalam tanah sampai mereka semua pergi
menghilang adalah tidak serius. Begitu juga aksi. Dalam kenyataannya, ini adalah
sebuah non-aksi yang tidak bertanggung jawab.

“Organisasi
Swadaya”

Organisasi anarkis selalu bersembunyi di belakang
topeng “organisasi swadaya”. Mereka mengklaim bahwa mereka tidak mempunyai
pemimpin, tidak mempunyai kebijakan, dll. Tetapi, siapakah yang membuat
keputusan? Bila tidak ada kepemimpinan dan tidak ada kebijakan, maka tidak akan
ada aksi dalam segala bentuk. Demonstrasi-demonstrasi baru-baru ini sudah
diorganisir dan dikoordinasi dalam skala internasional. Bagus, itu sudah
seharusnya. Akan tetapi, tanpa organisasi dan demokrasi, tidak ada seorangpun,
kecuali sebuah kelompok kecil di atas, mempunyai suara untuk memutuskan mengapa,
dimana, dan kapan demonstrasi tersebut dilaksanakan. Pergerakan macam ini tidak
akan menggetarkan lutut kapitalisme internasional.

Salah satu kelompok
anarkis yang terkenal di Inggris, Reclaim the Streets (Menuntut Kembali
Jalan), menunjukkan hal tersebut melalui publikasi May Day mereka,
“Maybe”. Siapa yang menulis artikel-artikel tersebut, siapa yang
memutuskan artikel apa yang diterbitkan dan yang tidak diterbitkan, siapa yang
mengedit artikel tersebut, darimana uang datang? Maksud kami disini bukanlah
untuk menuduh mereka dengan tuduhan pembukuan yang mencurigakan – kami hanya
ingin menunjukkan bahwa “ketidakadaan kepemimpinan” adalah sebuah mitos
organisasi swadaya.

Di halaman ke 20, mereka menyatakan “Reclaim the
Street adalah sebuah organisasi yang non-hierarki, spontan, dan swadaya. Kami
tidak mempunyai pemimpin, komite, dewan direktur, juru bicara. Tidak ada unit
sentral untuk membuat keputusan, rencana strategis, dan perancangan ideologi.
Tidak ada keanggotaan dan tidak ada komitmen formal. Tidak ada rencana utama dan
tidak ada agenda.”

Ada dua problem disini. Pertama-tama,
siapakah “kami”, yang membuat pernyataan di atas, dan siapakah yang memutuskan
ini. Kedua, bila ini adalah benar, ini bukanlah sesuatu yang harus
dibangga-banggakan. Suka atau tidak, tidaklah mungkin sistem kapitalisme akan
diruntuhkan oleh metode yang serampangan dan tak teliti ini. Tidak ada teori,
tidak ada analisis masyarakat yang logis. Untuk menyombongkan absennya arah,
absennya tujuan dan absennya logika, di hadapan musuh kapitalisme internasional
yang sangatlah teroganisir dan brutal, adalah sebuah hal yang sangatlah tidak
bertanggung jawab.

Dalam kenyataannya, pimpinan-pimpinan gerakan ini
tidaklah hampa dalam ideologi, mereka adalah kaum anarkis. Anarkisme bukan hanya
sebuah terminologi yang kosong, anarkisme datang dari kata Yunani
anarchos’ yang berarti ‘tanpa pemerintahan’. Bagi kaum anarkis, negara
– institusi pemerintahan, tentara, polisi, pengadilan, dan lain-lain – adalah
sebab utama dari semua yang salah di dunia. Negara harus dihancurkan dan diganti
bukan dengan bentuk negara yang baru, tetapi dengan implementasi secara segera
masyarakat tanpa kelas.

Oposisi terhadap negara dan otoritas menghasilkan
kesimpulan untuk menolak segala bentuk aktivitas parlemen, partai politik, atau
perjuangan untuk segala perubahan kecil, penolakan terhadap perubahan politik
melalui negara.

Tentu saja Marxisme juga menentang dominasi brutal oleh
negara kapitalis. Marx melihat di kemudian hari sebuah masyarakat tanpa negara,
“sebuah perserikatan di mana perkembangan setiap individu adalah kondisi untuk
perkembangan tanpa halangan untuk semuanya.” Ini adalah masyarakat yang mandiri.
Pertanyaannya adalah bagaimana caranya untuk mencapai hal
tersebut.

Karena anarkisme melihat bahwa akar semua masalah adalah di
dalam negara, maka anarkisme percaya bahwa masalah tersebut dapat dipecahkan
dengan kehancuran negara. Di pihak yang lain, Marxisme melihat divisi masyarakat
ke dalam kelas-kelas, kelas minoritas yang memiliki alat produksi kekayaan dan
kelas mayoritas yang jerih payahnya merupakan sumber kekayaan tersebut, sebagai
akar dari masalah. Divisi masyarakat ke dalam kelas inilah yang melahirkan
negara – karena kelas minoritas memerlukan sebuah kekuatan yang spesial untuk
mempertahankan kekuasaannya atas kelas mayoritas – sebuah negara yang sudah
berevolusi selama ribuan tahun menjadi sebuah struktur yang kompleks seperti
yang kita lihat sekarang ini.

Pembasmian
Negara

Negara kapitalis moderen dapatlah mengenakan banyak
topeng, monarki, republik, kediktaturan, akan tetapi pada akhirnya tujuan negara
kapitalis adalah sama, untuk mempertahankan kekuasaan minoritas kelas kapitalis.
Maka dari itu, tujuan dari Marxisme bukanlah semata-mata membasmi negara, tetapi
mengakhiri masyarakat kelas.

Negara terlahir dari divisi masyarakat ke
dalam kelas-kelas untuk melindungi kepemilikan pribadi. Selama masih ada
kelas-kelas, negara akan selalu ada. Jadi, bagaimanakah masyarakat kelas dapat
diakhiri?

Bukan dengan menghiraukannya, tetapi hanya dengan kemenangan
salah satu kelas yang berselisih. Kemenangan untuk kapitalisme berarti
kehancuran bagi jutaan umat manusia. Seperti yang Marx jelaskan, pilihan yang
kita hadapi bukanlah sosialisme atau status quo, tetapi sosialisme atau
barbarisme. Usaha terus-menerus oleh kapitalisme untuk mengejar keuntungan
finansial akan mendorong jutaan manusia ke dalam kemiskinan dan kelaparan. Usaha
mereka untuk mengkontrol pasar dan bahan mentah akan menyebabkan perang dan
kehancuran tanpa akhir.

Kemenangan kelas pekerja hanya dapat berarti
kehancuran negara kapitalis. Akankah para kapitalis menerima kekalahan mereka
dengan sportivitas, mundur secara tenang? Tidak, semua sejarah menunjukkan bahwa
mereka tidak akan menerima kekalahan mereka. Buruh haruslah membangun sebuah
negara yang baru, untuk pertama kalinya untuk membela kekuasaan mayoritas atas
minoritas.

Lenin di dalam karya maha-besarnya, Negara dan Revolusi,
berargumen, “Kaum Proletariat memerlukan negara hanya untuk sementara. Kita
tidaklah sama sekali berbeda pendapat dengan kaum anarkis mengenai pembasmian
negara sebagai tujuan. Kita tetap mempertahankan bahwa untuk mencapai tujuan
tersebut kita harus sementara menggunakan instrumen, sumber daya, dan metode
kekuasaan negara untuk melawan kaum pemeras.”

Begitupun juga Trotsky di
dalam Stalinisme and Bolshevisme menjelaskan, “Kaum marxis setuju sepenuhnya
dengan kaum anarkis mengenai tujuan akhir: likuidasi negara. Kaum Marxis adalah
statis (seseorang yang memegang teguh konsep negara – catatan penerjemah) hanya
dalam batasan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai tujuan melikuidasi negara
hanya dengan semata-mata menghiraukannya.”

Dari permulaannya, negara
tersebut tidak akan seperti mesin negara sebelumnya. Dari hari pertama, negara
tersebut dalam kenyataannya adalah setengah negara (semi-state). Tugas
dari semua revolusi sebelumnya adalah untuk mengambil alih kekuasaan negara.
Dari pengalaman Komune Paris 1871, Marx dan Engels menyimpulkan bahwa
tidaklah mungkin bagi buruh untuk hanya semata-mata menggunakan aparatus negara
yang dulu, mereka sebaliknya harus menggantikannya dengan negara yang sepenuhnya
baru, untuk melayani kepentingan dari mayoritas dan meletakkan dasar masyarakat
sosialis.

Untuk memastikan bahwa kaum pekerja mempertahankan kontrol atas
negara, Lenin mengajukan bahwa semua pejabat yang bertanggungjawab harus dipilih
dan mereka dapat dipanggil kembali, dan dibayar tidak lebih dari gaji seorang
pekerja ahli. Semua tugas birokrasi haruslah dirotasi. Tidak ada tentara kecuali
tentara sipil, dan boleh kami tambahkan, semua partai politik kecuali kaum fasis
diperbolehkan untuk berorganisasi.

Tugas dari negara tersebut adalah
untuk mengembangkan ekonomi untuk melenyapkan kemiskinan. Semakin berkurang
kemiskinan, semakin berkurang perlunya mengatur masyarakat, semakin berkurang
perlunya sebuah negara. Masyarakat kelas dan negara akan mulai lenyap ketika
pemerintahan rakyat, kekuasaan suatu kelas terhadap kelas yang lain, diganti
dengan sistem administrasi, penggunaan sumber daya yang terencana untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat.

Panggilan utopis anarkisme untuk menghancurkan
negara dalam satu malam menunjukkan tidak adanya pengertian tentang negara
ataupun program aksi yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh
dirinya sendiri.

Sebagai filosofi moderen, anarkisme berkembang pada abad
ke-19 beserta dengan perkembangan pesat kapitalisme dan mesin negaranya.
Anarkisme ini merepresentasikan pemberontakan kaum borjuis kecil yang kehilangan
posisinya di dalam masyarakat, terjepit oleh perkembangan monopoli.

Kasus
mereka diperdebatkan oleh Mikhail Bakunin dan pendukungnya di dalam
Internasional Pertama. Di konferensi anarkis tahun 1872, mereka berargumen
“Aspirasi proletariat tidak boleh mempunyai tujuan yang lain selain pembentukan
organisasi ekonomi yang benar-benar bebas dan federasi berdasarkan kerja dan
persamaan dan sama sekali independen dari pemerintahan politik, dan organisasi
macam ini hanya dapat terbentuk dari aksi spontan kaum proletariat itu sendiri …
organisasi politik hanya bisa menjadi organisasi kekuasaan untuk kepentingan
sebuah kelas dan merugikan massa … proletariat, bila mereka merebut kekuasaan,
akan menjadi kelas penguasa dan penindas … “

Penaklukan
Kekuasaan

Walaupun terdengar cukup radikal, bagaimanapun juga
argumen tersebut di atas sama saja dengan resep untuk non-aksi dan malapetaka.
Seperti yang Trotsky jelaskan, “Penyangkalan terhadap penaklukan kekuasaan sama
saja dengan meninggalkan secara sukarela kekuasaan tersebut kepada orang-orang
yang memegangnya, yaitu kaum penindas. Intisari dari setiap revolusi adalah
menempatkan kelas yang baru ke dalam kekuasaan, maka memungkinkan kelas tersebut
untuk mewujudkan program kehidupannya sendiri. Tidaklah mungkin melakukan
perperangan dan menolak kemenangan. Tidaklah mungkin memimpin massa menuju
pemberontakan tanpa menyiapkan penaklukan kekuasaan.”

Kaum anarkis
melihat degenerasi Uni Soviet yang menjadi kediktaturan yang totaliter sebagai
bukti bahwa Bakunin adalah benar. Dalam kenyataannya, hanya Leon Trotsky dan
Marxisme yang bisa menjelaskan sebab-sebab dari degenerasi tersebut, menemukan
akar degenerasi tersebut bukan di dalam kepala manusia atau kepribadian, tetapi
di dalam kondisi nyata dari perang saudara, intervensi tentara asing, and
kekalahan revolusi di Eropa. Posisi dari anarkisme ini hanya membenarkan fitnah
kaum borjuis bahwa Stalinisme tidak dapat diceraikan dari
Bolshevisme.

Dulu kala, anarkisme moderen ini mendapat suatu dukungan
dari kaum buruh. Akan tetapi, sepanjang perjuangannya, kaum buruh menyadari
perlunya organisasi dalam bentuk serikat buruh, dan juga perlunya organisasi
politik yang membawa kepada pembentukan partai massa buruh. Bakunin dan
kawan-kawan menolak partisipasi di dalam parlemen, atau perjuangan untuk
perubahan kecil sebagai pengkhianatan terhadap revolusi, mereka “menolak semua
aksi politik, yang menurut mereka tidak mempunyai objektif segera dan langsung
untuk kemenangan buruh terhadap kapitalisme, dan sebagai akibatnya, pembasmian
negara.”

Marxisme berjuang untuk penaklukan kekuasaan politik oleh kelas
pekerja dan pembangunan masyarakat sosialis, dimana negara akan lenyap. Sebelum
itu, haruskah buruh menjauhkan diri dari aktivitas politik? Haruskah mereka
menolak semua perubahan kecil yang dapat meningkatkan keberadaan mereka? Tidak
ada yang dapat menyenangkan Blair (Tony Blair, perdana menteri Inggris saat itu
– catatan penerjemah) dan para bos lebih dari itu. Tentu saja tidak, kita harus
membela perjuangan untuk setiap manfaat sekecil apapun, dan menggunakan setiap
kesempatan yang terbuka untuk kita. Hanya orang yang bodoh saja yang dapat
menolak gaji yang lebih baik atau sistem kesehatan masyarakat. Melalui
perjuangan tersebut, dan perjuangan untuk merubah organisasi buruh, serikat
buruh, dan partai buruh, kita belajar dan menjadi lebih kuat dan membawa lebih
dekat hari dimana adalah mungkin untuk merubah masyarakat secara
permanen.

Perubahan Kecil di bawah
Kapitalisme

Kaum Marxis berjuang untuk setiap perubahan kecil,
dan pada saat yang sama menjelaskan bahwa perubahan-perubahan ini tidaklah aman
kalau kapitalisme berlanjut. Hanya sosialisme yang dapat menyelesaikan
problem-problem masyarakat.

Kaum anarkis moderen kita, Reclaim the
Streets dan lainnya, tidak mendapatkan dukungan dari buruh di Inggris yang
terorganisir. Akan tetapi, beberapa kaum muda radikal tertarik pada “aksi
langsung” mereka. Ada kekosongan yang ditinggalkan oleh tidak adanya organisasi
pemuda Partai Buruh yang, dalam perjuangannya untuk program sosialisme, dapat
menarik minat buruh muda dan mahasiswa. Dengan tidak adanya pimpinan dari
petinggi serikat buruh, dan Partai Buruh di pemerintahan menyerang kaum
muda-mudi, untuk sementara kekosongan tersebut sebagian diisi oleh grup-grup
seperti Reclaim the Streets.

Apakah aksi yang mereja ajukan? Di
dalam pernyataan media mereka (2/5/00), mereka menjelaskan, “Kita tidak
memprotes. Di bawah bayang-bayang parlemen yang tidak relevan, kita sedang
menanam benih sebuah masyarakat dimana rakyat biasa mempunyai kontrol atas tanah
mereka, sumber daya alam mereka, makanan mereka, dan proses pembuatan keputusan
mereka. Taman ini merupakan simbol sebuah dorongan hati untuk menjadi
independen, daripada menjadi tergantung pada kapitalisme.”

Kenyataan
bahwa parlemen tampak tak terdaya untuk menghentikan aksi PHK atau perusakan
lingkungan hanya menunjukkan bahwa parlemen tersebut melayani kepentingan
kapitalisme. Akan tetapi, di bawah tekanan dari rakyat, adalah mungkin untuk
memperkenalkan perubahan kecil untuk kepentingan rakyat biasa melalui parlemen.
Tidak ada gunanya mengumumkan bahwa parlemen adalah tidak relevan, dan
meninggalkan parlemen ketika mayoritas tidak setuju dan tetap mengharapkan
pemerintah untuk membuat kehidupan mereka lebih baik. Ini adalah cerminan dari
sikap sektarian terhadap Partai Buruh. Semua jalan yang bisa digunakan untuk
meningkatkan kehidupan kita haruslah
digunakan.

“Independensi”

Bagaimanapun juga,
“independensi” bukanlah alternatif. Independensi tidak akan membawa listrik ke
rumah kita, mendidik anak-anak kita atau mengobati kita bila kita jatuh sakit.
Kita mempunyai kekayaan untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat, masalahnya
adalah bahwa kita tidak memiliki kekayaan tersebut. Individualisme
(independensi) tidak bisa menjadi alternatif dari sosialisme, dimana semua
kekayaan masyarakat ada di tangan kita, dan kita semua memkontribusikan apa yang
kita bisa kepada masyarakat dengan sepadan.

Perkebunan gerilya dan
aktivitas-aktivitas serupa yang sudah bermunculan di berbagai tempat, adalah
semata-mata perpanjangan ide tua yang utopis untuk merubah masyarakat dengan
contoh. Akar dari ide tersebut datang dari filosofi idealis. Filosofi idealisme
merujuk pada sebuah konsep bahwa tindakan seseorang adalah konsekwensi dari
pikirin mereka, bahwa ide dan bukan kondisi kehidupan kitalah yang menentukan
pandangan hidup kita. Bila, melalui proses akumulasi yang berkepanjangan, kita
merubah cara berpikir seseorang, maka mereka akan hidup dengan berbeda,
kapitalisme akan menjadi mubasir. Kelas kapitalis akan duduk diam and melihat
sistem mereka jatuh runtuh.

Walau kaum anarkis percaya di dalam
perjuangan revolusioner untuk menaklukkan kapitalisme, mereka berargumen bahwa
kapitalisme harus diganti dengan … nihil. Akan tetapi, tanpa aparatus sentral,
tanpa organisasi, bagaimanakah kereta api bisa berjalan tepat waktu,
bagaimanakah operasi cangkok organ bisa diorganisir, bagaimanakah kekayaan dunia
bisa disalurkan untuk mengatasi kemiskinan dengan permanen.

Di dalam
publikasi mereka, ‘Maybe’, Reclaim the Street mengatakan kepada kita
“Pergerakan sosial radikal yang semakin tersatukan ini tidak ingin mengambil
kekuasaan, tetapi ingin menglikuidasi kekuasaan. Pergerakan ini memimpikan
banyak bentuk alternatif organisasi sosial yang otonomi, bentuk yang terkait
dengan kebutuhan lokalitas yang spesifik. Apa yang akan menjadi alternatif dari
kapitalisme untuk orang-orang yang kini tinggal di perumahan di Croydon adalah
berbeda sepenuhnya dengan apa yang cocok untuk orang-orang yang tinggal di
daerah kumuh Delhi.”

Bentuk masyarakat baru di negara yang berbeda atau
daerah yang berbeda haruslah menjadi perhatian kita. Kekuatan ekonomi yang sudah
kita bangun selama berabad-abad dapat dan harus digunakan dengan terencana dan
rasional untuk menghapus kelaparan, penyakit, dan buta-huruf. Kekuatan ekonomi
ini harus digunakan demi kepentingan seluruh masyarakat. Ini hanya bisa dicapai
dengan perencanaan masyarakat yang demokratis dimana kekuatan di ujung jari kita
dapat digunakan dengan menghargai masa depan planet ini, pemeliharaan kekayaan
planet ini, kondisi kerja kita, dan taraf hidup. Suka atau tidak, menanam
beberapa wortel di atas tanah kosong tidak akan menghapus kelaparan.

Kita
mempunyai kemampuan untuk menghapus kelaparan, tetapi hanya bila kita
menggabungkan teknologi baru, industri, dan keahlian dan partisipasi aktif dari
jutaan umat manusia.

Kekuatan ekonomi yang sudah kita ciptakan dapat
dibandingkan dengan kekuatan destruktif dari petir, liar and kacau di dalam
pasar, akan tetapi bila terorganisir ke dalam kabel dan menghantarkan listrik
akan merubah kehidupan kita. Musuh kita bukanlah industri, ataupun mesin-mesin.
Negara adalah musuh kita, tetapi negara hanyalah sebuah gejala, bukanlah
penyakit itu sendiri. Penyakitnya adalah kapitalisme dan kepemilikan ekonominya,
kepengurusan masyarakat oleh kapitalisme lah yang harus kita
gantikan.

Tugas kita saat ini adalah untuk menggabungkan kekuatan dan
pengalaman kelas buruh dan organisasinya yang sangat kuat dengan kekuatan dan
energi pemuda-pemudi dalam skala internasional, dengan dasar pengertian yang
jelas mengenai kapitalisme, negara, dan sebuah program untuk merubah masyarakat.
Ini membutuhkan sebuah kombinasi teori dan aksi. Di dalam kombinasi tersebut
terdapat kekuatan Marxisme.

Bila kau ingin berjuang melawan kapitalisme,
berjuanglah dengan senjata program sosialisme dan perspektif sosialisme.
Bergabunglah dengan kami di dalam perjuangan untuk perubahan sosialisme di
planet ini.

Judul asli: “Marxism
and Direct Action
”, 4 Mei 2000
Sumber: In Defence of Marxism,
www.marxist.com
Penerjemah: MS (Februari 2007)

Curhat lah lewhh…

June 5th, 2008 by zheenchan

Curhat Si Anak Domba…

Anak Muda: Yang Memberontak dan Yang
Ingin Bertobat

 

Hari minggu aku bangun pagi-pagi, lalu mandi
dan gosok gigi; langsung pakai baju yang rapi soalnya mau ikut misa suci…

Aku ini adalah orang muda katolik, walau ke
gereja tidak sesering pastor yang setia menanti untuk melayani dalam misa pagi,
karena kadang-kadang kesiangan (maklumlah karena kebiasaan begadang mahasiswa),
dan aku memang bukan pastor atau orang yang terobsesi pengen seperti pastor.

Berdosakah itu atau tidak aku tidak tahu
pasti, yang jelas sudah semenjak SMP aku tinggalkan kebiasaan mencuri uang
untuk jajan dari dompet Mami atau ngakalin uang kembalian membeli rokok punya
Papi. Tapi Sekarang sudah nggak lagi, nanti masuk neraka katanya.

Aku sekarang terkadang masih suka nongkrong
dengan teman-teman, duduk ngobrol sambil
mengkonsumsi miras berlabel Bir atau Malaga, tetapi tidak lantas mengganggu
cewek cantik yang lagi lewat dan berjalan sendirian atau memalak orang-orang
yang lalu lalang. Bagiku itu hanyalah sekedar salah satu model bersosialisasi
yang tidak harus selalu diikuti setiap kali kesempatan dan menjadi kewajiban
(sebagian bahkan banyak orang “mengharamkan” lifestyle macam begini). Aku pun sadar itu merusak badan.

Memang begitulah pergaulan, apalagi anak-anak
muda jaman sekarang sudah tahu free-sex
dan kehidupan malam. Untunglah bagiku semua itu bukan menjadi suatu pilihan
yang mesti kuambil menjadi sebuah jalan atau tempat pelarian. Aku masih punya
prinsip dan nilai-nilai moral yang bisa jadi pegangan yang kudapat dari orang
tua dan ajaran-ajaran mengenai iman di sekolahan. Karena pada dasarnya, segala
sesuatu memiliki batasan, terutama mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.
Dalam pemahamanku, perbandingan-perbandingan kontradiktif macam itu aku mahfumi
sebagai “suatu perimbangan semesta”. Rumit memang…

        Kalau ada yang komentari diriku sekarang ini,
maka akan kujawab: “Itu urusanku pribadi, mau baik atau buruk diriku urusilah dirimu
sendiri. Toh tidak ada yang dirugikan atau yang merasa demikian. Yang aku
butuhkan bukanlah komentar tetapi nasehat, kritik, dan saran yang kiranya
mengena untuk membuatku lebih mantap melihat masa depan (yang sebenarnya
tidaklah terlalu panjang…)”. Tampang jutek
bukan berarti orangnya demikian. Buktinya aku selalu berusaha terbuka untuk
setiap masukan, karena demikian pula yang aku pelajari dari kawan-kawanku yang
jauh lebih dewasa yang selalu berusaha saling terbuka dalam batas-batas etika.

 Sekarang aku sudah
jadi mahasiswa, banyak belajar dari buku-buku tentang ideologi, mengenai
keadilan sejati yang kata salah satu pemikir hanya bisa tercipta dalam dunia
yang tanpa kelas.

Nalar dan logikaku pun bukan lagi sekedar
modal mengkritisi dan berargumen dengan gaya “politikus kampungan” (seperti
yang kebanyakan: politikus duit) dalam
forum resmi, debat, atau diskusi, tetapi lebih untuk merefleksikan visi-misiku
dan mencari tahu apa yang bisa aku perbuat untuk “gereja dan tanah air”
(walaupun untuk hal-hal pribadi terlewatkan; akhir bulan terkadang krisis
jajan, rokok, dan nasi).

Aku ini tak hidup sendiri, makanya hidup
mesti saling berbagi atau memberi dari yang lebih kita punyai, itu yang Oom
Kris bilang. Kalau mau tahu lebih banyak baca saja Perjanjian Baru, disitu
termuat biografi dan petuah-petuah bijakNya.

Dari teman aku belajar tentang fraternitas,
persaudaraan sejati dalam konteks katolisitas, sebuah persaudaraan dengan mode
interaksi saling memperkaya wawasan dan pengetahuan demi tercapainya
intelektualitas. Semua itu diimbangi dengan satu semangat spiritual sebagai
kaum muda katolik, yaitu kristianitas.

Dari situ aku mulai beranjak untuk belajar
tentang lingkungan sosial dan masyarakat lewat sudut pandang dan pemahaman yang
lebih kritis tentang konsep ekonomi, politik, falsafah kebangsaan, dan
pemerintahan pada ranah kontekstual. Nilai-nilai perjuangan gerakan mahasiswa
pun menjadi wacana yang hangat untuk didiskusikan (digosipin) sambil begadang.

Tapi dari semua itu janganlah menganggap
diriku ini termasuk golongan orang pintar karena memang “belum” pintar. Masih
banyak hal yang mesti kualami dalam berproses untuk pengalaman yang mematangkan
pribadi.
Seperti yang tertulis;
“iman tanpa perbuatan adalah mati”. Sebuah ungkapan yang secara harfiah aku artikan
bahwa “segala sesuatu dalam hati dan pikiran mestinya dilaksanakan dalam
tindakan nyata”, terutama hal-hal positif yang sifatnya membangun diri dan
sesama. Untuk itulah aku masih perlu bimbingan, terutama dari yang lebih tua
dan berpengalaman.

Dukunganlah yang aku butuhkan, bukan
penghakiman. Nasehat dan teguranlah yang akan mengajari aku hingga menjadi
pengalaman, bukan celaan. Dampingan dan tuntunan untuk bertindak yang kuharapkan,
bukan sikap yang meremehkan. Kepercayaan dan kesempatan untuk membuktikan bahwa
aku bisa itulah yang diperlukan, bukan dijadikan sebagai objek atau seolah kelompok
masyarakat kelas dua.

Aku
bukan orang hebat karena belum berbuat ”nekat” untuk mengubah apa yang bisa aku
ubah dari sebagian wajah dunia ini. Aku juga bukan salah satu orang yang paling
benar di muka bumi ini, karena ketika berbuat keliru, banyak orang mengatakan
”aku ini tidak bisa menghindari kesalahan ketika pada waktunya terjadi tanpa
diharapkan karena itulah kodratku sebagai manusia”. Jadi, kesimpulanku: karena
orang lain selain aku juga manusia, maka mereka pun demikian.

Syukurlah
karena aku masih bisa membedakan hitam dan putih, walau kadang kala terjebak
untuk membuat pilihan pada sisi dunia yang abu-abu, tetapi dengan satu
pembenaran yang berpijak pada moralitas. Memang dari sudut pandang obyektif
bukanlah suatu pembenaran yang bisa dianggap benar secara mutlak, karena ketika
pilihan itu dijatuhkan pada satu hal, akan ada hal lain yang ”dikorbankan”.

***

Nupim mu ih le… Adhaaawwwssszz

June 5th, 2008 by zheenchan

Baru Bisa Mimpi

 

Amerika:  Bikin film dengan tokoh superhero
imajinatif yang modern dan sangat hebat (Spiderman, Superman, dll) atau tentang
kepahlawanan orang-orang Amerika di medan
tempur dengan segala kecanggihan teknologi militernya. Segalanya tentang nilai-nilai
superioritas karakter (yang biasanya merupakan personifikasi Amerika itu
sendiri secara general), “yang lain” pokoknya jadi piguran atau cameo saja
dalam cerita produksi Holywood itu ada juga film tentang
pertempuran dengan makhluk angkasa luar. Ternyata makhluk asing ini sangat
“fasih berbahasa Inggris” dan ending-nya
mesti kalah dari manusia bumi (orang Amerika) walaupun senjatanya lebih canggih
(tonton serial TV “War of The World” – yang alien-nya bersemboyan “to live
immortal…” – atau film layar lebar “Independence Day”).

 

Jepang: Juga tak mau kalah. Diciptakanlah juga
tokoh Ksatria Baja Hitam atau Gogle-5 yang digandrungi anak-anak (terutama Indonesia).
Pokoknya segala kekacauan yang terjadi di muka bumi ini segera dapat diatasi
oleh jagoan-jagoan Jepang ini, dan tentu saja “yang lain” cuma jadi pelengkap
penderitaan (dalam cerita). Tak lupa juga karakter-karakter nyata macam para
“Ninja” yang di filmkan dengan bumbu drama-action yang hebat-hebat hingga jadi panutan
anak-anak kampung yang biasa makan”tiwul’ atawa “rujak” pengen makan “sushi”
pake sumpit bambu pas gaya Jepang.

                    Ada juga tokoh “Doraemon”
yang bikin anak-anak loncat dari loteng karena mau nyoba “baling-baling
bambunya”.

 Yang hebat
adalah film “Godzilla” yang tidak hanya menampilkan monster menakutkan, tapi
juga para makhluk luar angkasa dari planet “X-Seijin” yang ternyata pedangnya
serupa Katana (pedangnya para Samurai) dan jago bela diri “karate”, “jujitsu”,
dan “kempo”.

 

Inggris: Bikin juga cerita tentang kisah-kisah
heroisme masa lalu (fiksi maupun non fiksi). Mulai dari tokoh fiktif macam
“Harry Potter”, “King Arthur and The Knight of Round Table”, dan “Robin Hood” sampai
yang benar-benar nyata pernah ada macam “Lawrence of Arabia” atau tentang
kehebatan diplomasi “Sir Winston Churchill” dalam Perang Dunia II.

 

Hongkong: Punya sederet jagoan kungfu dari biara
Shaolin, ada juga tokoh legendaris (entah nyata atau rekaan) Wong Fei Hung.
Jagoan-jagoan kungfu yang bisa terbang dan mengeluarkan sambaran energi dari
telapak tangannya, tentang polisi-polisi jago “berantem” dan hebat “nembak”
sambil salto. Bahkan nama Jacky Chan dan Jet Li sangat terkenal hingga ke
kampung-kampung di pelosok. Pokoknya nggak ada “jagoan lain” yang bisa ngalahin
jagoan di film Hongkong adu jotos.

 

India: Jagoan
yang tampil biasanya seorang polisi yang kalo nembak pake revolver (isi enam)
pelornya nggak habis-habis dan kalo ditembak musuh jarang bisa kena (sakti kali
yee…!). Kalo mukul anak buah penjahat cukup sekali langsung KO, tapi kalo
mukul bosnya sampe sepuluh kali juga nggak ada kelihatan bekas memarnya. Yang
paling berkesan (terutama buat orang kampung) adalah nyanyian dan goyang
pinggulnya yang aduhai…seksi banget bro…! Anak kampung mana seeh yang nggak
kenal Amithabh Bhachan atawa Sanjay Dutt, hehehe…apa lagi pas lagi make
kostum “Polisi India
yang mirip seragam Satpol PP di Indonesia yang kerjaannya tukang nggusurin PKL
atau razia PSK.

 

Indonesia: Spesialis bikin sinetron yang ceritanya
tentang “mertua marahin menantu”, tentang “persahabatan jin/tuyul dan manusia”,
tentang “anak SMP yang udah jago pacaran”, tentang “kehidupan orang kaya yang
beristana impian di antara realitas pahit gubuk-gubuk kardus sebagian besar
orang Jakarta” atau film layar lebar tentang “ilmu gaib dan santet-menyantet”,
tentang kritik-kritik sosial yang “nggak jelas siapa yang sebenarnya dikritik”. 

                   Ada juga tokoh macam Jaka Tingkir atau Si Jampang yang
sakti mandraguna (konon katanya hidup di era kolonialisme Belanda), tapi tetap
aja Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun (hingga merdeka di era ketika orang sudah
kenal bedil, pistol, senapan mesin, sampai pesawat pembom).

 Maka coba-coba
jugalah Indonesia menciptakan serial TV dengan karakter superhero macam “Sang
Lima” atau “Gerhana” (padahal yang main juga blasteran orang bule), akhirnya
juga nggak laku, katanya seeh jagoannya kurang canggih (masa jagoan doyannya
makan pecel lele dan ketupat tahu, sementara sekarang ini baru bisa dibilang
hebat kalo udah jadi langganan McDonald, Pizza Hut, atau Hoka-Hoka Bento dan
minumannya mesti Coca Cola atau Pepsi).

 Akhir kata,
nggak usah orang luar negeri yang ngomong, anak negeri sendiripun karena “malu”
banyak yang nggak mau mengakui para jagoan itu; “

ORANG SUSAH NGGAK USAH IKUT-IKUTAN
MIMPI, DEH
!!!”

                                                                                                           18 Juni 2007

Tumbang Anoi, 14 Juni 1893

June 5th, 2008 by zheenchan

ISI PERJANJIAN TUMBANG ANOI

 

Pertemuan Kuala
Kapuas, 14 Juni 1893 membahas:

  1. Memilih siapa yang berani dan sanggup menjadi ketua
         dan sekaligus sebagai tuan rumah untuk menghentikan 3H (Hokanyou=Saling
         mengayau, Hobunu’=saling membunuh, dan Hotohtok=Saling memotong kepala
         musuhnya).
  2. Merencanakan di mana tempat perdamaian itu.
  3. Kapan pelaksanaan perdamaian itu.
  4. Berapa lama sidang damai itu bisa dilaksanakan.
  5. Residen Banjar menawarkan siapa yang bersedia menjadi
         tuan rumah dan menanggung beaya pertemuan. Damang Bahtu’ menyanggupi.
         Karena semua yang hadir juga tahu bahwa Damang Bahtu’ memiliki wawasan
         yang luas tentang adat-istiadat yang ada di

    Kalimantan

         pada waktu itu, maka akhirnya semua yang hadir setuju dan ini disyahkan
         oleh Residen Banjar.


Lalu disepakati bahwa:

  1. Pertemuan damai akan dilaksanakan di Lovu’ (kampung)
         Tumbang Anoi, yaitu di Betang tempat tinggalnya Damang Bahtu’.
  2. Diberikan waktu 6 bulan bagi Damang Bahtu’ untuk
         mempersiapkan acara.
  3. Pertemuan itu akan berlangsung selama tiga bulan
         lamanya.
  4. Undangan disampaikan melalui tokoh/kepala suku
         masing-masing daerah secara lisan sejak bubarnya rapat di Tumbang

    Kapuas

    .

  5. Utusan yang akan menghadiri pertemuan damai itu haruslah
         tokoh atau kepala suku yang betul-betul menguasai adat-istiadat di
         daerahnya masing-masing.
  6. Pertemuan Damai itu akan di mulai tepat pada tanggal
         1 Januari 1894 dan akan berakhir pada tanggal 30 Maret 1894.

 

Pertemuan Damai
dari 1 Januari 1894 hingga 30 Maret 1894, di Rumah Betang Damang Bahtu’ di
Tumbang Anoi. Dalam pertemuan Damai itu, dengan keputusan:

  1. Menghentikan permusuhan antar sub-suku Dayak yang
         lazim di sebut 3H (Hokanyou =saling mengayau, Hobunu’ = saling membunuh,
         dan Hotohtok = saling memotong kepala) di Kalimantan (

    Borneo

         pada waktu itu).

  2. Menghentikan sistem Jihpon Kopali’ (hamba atau budak
         belian) dan membebaskan para Jihpon dari segala keterikatannya dari Tepui
         (majikannya) sebagai layaknya kehidupan anggota masyarakat lainnya yang bebas.
  3. Menggantikan wujud Jihpon yang dari manusia dengan
         barang yang bisa di nilai seperti bolanga’ (tempayan mahal atau tajau),
         halamaung, lalang, tanah / kebun atau lainnya.
  4. Menyeragamkan dan memberlakukan Hukum Adat yang
         bersifat umum, seperti : bagi yang membunuh orang lain maka ia harus
         membayar Sahiring (sanksi adat) sesuai ketentuan yang berlaku. pada yang
         digunakan lawan­nya manu­sia.
  5. Memutuskan agar setiap orang yang membunuh suku lain,
         ia harus membayar Sahiring sesuai dengan putusan sidang adat yang diketuai
         oleh Damang Bahtu’. Semuanya itu harus di bayar langsung pada waktu itu
         juga, oleh pihak yang bersalah.
  6. Menata dan memberlakukan adat istiadat secara khusus
         di masing-masing daerah, sesuai dengan kebiasaan dan tatanan kehidupan
         yang di anggap baik. (*)

 

Sumber: http://angantembawang.blogspot.com/2007/05/isi-perjanjian-tumbang-anoi.html

Operator Nggak Sopan…hehehe

June 5th, 2008 by zheenchan

Ponsel dan Kelas Sosial Di Masyarakat >>> ???

                                    Part I: Discourses

Dewasa ini perkembangan teknologi komunikasi telah mencapai taraf kemajuan
yang luar biasa dahsyatnya.
Begitu cepatnya ia sehingga yang nyata dapat dilihat hanyalah bayangan
sosok suatu raksasa industri kapitalis yang bergerak maju dan menimbulkan dampak
terpaan angin sosial yang berhembus merasuki berbagai sendi kehidupan manusia
yang dapat ia susupi. Banyak perusahaan telepon genggam yang berlomba-lomba
dengan segala kreativitas dan inovasinya berusaha menciptakan produk-produk
baru yang tentunya dengan model yang baru pula – dengan tambahan fitur berupa
aplikasi-aplikasi program yang bersifat hiburan dan juga aplikasi teknologi
komunikasi tercanggihnya. Telepon genggam atau ponsel (handphone/cellular phone) yang saat ini sedang menjadi trend dan
alih-alih telah menjadi salah satu simbol status sosial bagi sebagian orang,
merupakan salah satu ujud fisik perkembangan teknologi komunikasi ini.

Pada awal kemunculannya, ponsel
memiliki fungsi hampir sama dengan telepon rumah, hanya saja tanpa kabel dan
bersifat mobile atau bisa dibawa
kemana-mana sebatas daya jangkau sinyal yang dapat diterima. Tetapi, lambat
laun bentuk komunikasi dengan telepon genggam tidak lagi hanya bersifat lisan,
tetapi dapat juga dalam bentuk teks atau pesan singkat yang kita kenal dengan
SMS (short message service). Tiga
tahun belakangan ini teknologi terbaru telepon seluler yang sedang ramai di
masyarakat kita adalah

MMS

(multimedia message service). Dengan

MMS

kita tidak hanya dapat mengirim dan menerima
pesan dalam bentuk teks, tetapi juga gambar maupun video pendek (video clip/multimedia). Yang terbaru
adalah teknologi 3-G yang memungkinkan para penggunanya saling bertatapan muka
melalui layar ponsel.

Fenomena yang menarik
dari perkembangan ponsel ini adalah pergeseran sudut pandang masyarakat kita
terhadap fungsi dan manfaatnya pada satu dasawarsa terakhir ini.
Sepuluh
tahun yang lalu ponsel masih merupakan barang langka dan terbilang mahal. Hanya
mereka dari kalangan ekonomi menengah ke atas dengan kebutuhan untuk
berkomunikasi yang lebih intens dapat memiliki ponsel. Saya masih ingat
saat-saat ketika

SIM

Card perdana
suatu operator seluler harganya berkisar rata-rata di atas 150 ribu rupiah.
Betapa mewahnya barang tersebut kala itu (apalagi untuk ukuran mahasiswa)
sehingga hanya orang-orang tertentu yang mampu membelinya.

Tetapi saat ini dapat kita saksikan bahwa hampir setiap orang sudah
memiliki ponsel dengan aneka macam bentuk dan teknologi mutakhir yang dimilikinya.
Benda ini memang sudah bukan barang mewah tetapi tetap saja menjadi salah satu
ikon yang trendy bagi kalangan tertentu untuk menunjukkan status sosial
seseorang. Hal ini tidak terlepas dari ekses perkembangannya yang begitu cepat
dalam iklim persaingan ekonomi dunia saat ini. Terlebih lagi bahwa produk ini
telah terposisikan menjadi bagian dari kebutuhan akan komunikasi. Padahal
apalah bedanya saat ketika benda ini belum muncul dan populer dengan saat
booming-nya sekarang ini.

Walaupun dalam rentang yang relatif singkat (dapat dihitung dalam bulan)
bermunculan ponsel dengan jenis-jenis yang terbaru, tetapi perubahan harga
tidaklah menunjukkan jeda yang signifikan. Dapat dikatakan bahwa “barang baru –
harga sama atau sedikit lebih” dan “barang baru menggeser barang lama kemudian mematoknya dengan harga yang
baru (turun)”.

Sebagai contoh adalah ponsel merk X-1 setahun yang lalu harganya satu
juta, sekarang muncul lagi jenis X-2 dengan model yang lebih canggih dan
dipatok dengan harga 1,25 juta. Mereka yang berkemampuan lebih, karena merasa
X-1 modelnya sudah ketinggalan jaman untuk bergaya, langsung merogoh koceknya (bisa
jadi dengan cara tukar tambah atau menjual murah X-1 ke dealer yang mau
menampung ponsel bekas). X-2 segera menjadi trend dan mendominasi pangsa pasar
ponsel di masyarakat. Bagaimana dengan X-1? Yang pasti harganya turun. Bagi
mereka yang setahun lalu belum mampu membeli X-1 kini sudah dapat memilikinya
dengan harga miring (sebagian karena sudah second
hand
), apa lagi selama satu tahun mungkin ada beberapa orang yang terobsesi
rajin menabung untuk memilikinya.

Seiring dengan semakin
banyaknya fitur-fitur yang memperkaya fungsi dan manfaat ponsel, muncullah beberapa
perusahaan penyedia layanan operator telepon seluler berbasis GSM (Global System for Mobile Communication) maupun CDMA (Code Division Multiple Access). Diantaranya adalah Telkomsel,
Indosat, ProXL (ExcelCom), Telkom Flexi, dan Fren. Persaingan merebut pelanggan
pun semakin jelas terlihat melalui iklan-iklan di media

massa

yang menampilkan keunggulan produk
layanannya masing-masing.

Tidak hanya melalui
iklan; usaha-usaha menarik minat masyarakat juga dilakukan dengan segala
iming-iming undian berhadiah jika menggunakan jasa operator perusahaan tersebut
atau dengan berbagai bentuk bonus yang diberikan kepada pelanggan.

Ada

juga yang dengan
kreatifnya menawarkan kemudahan-kemudahan atau fasilitas-fasilitas baru dalam
berkomunikasi bahkan hingga banting harga kartu perdana dan tarif pulsa
menelepon yang gila-gilaan. Disamping
itu, trend co-branding antara
perusahaan jasa operator ponsel (khususnya CDMA) dengan produsen handphone
untuk mengeluarkan paket alternatif yang harganya lebih terjangkau mulai marak
di pasaran (Nokia dengan Telkom Flexi, Samsung dengan Fren, dsb), tambah lagi
saat ini sedang maraknya perang tarif antar operator layanan GSM maupun CDMA.

 

Part II: A Subjective Conclusion

Dengan demikian jelaslah
tampak bahwa perkembangan jenis ponsel pun dapat menjadi representasi kemunculan
kelas dengan label tertentu dalam masyarakat. Label tertentu dalam arti kata
bukanlah hal yang substansial tetapi hanya semacam penunjuk latar belakang
strata sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya. Substansi yang
fundamental dari terbentuknya kelas-kelas ini adalah sudut pandang dan kerangka
berpikir individu-individu yang terintegrasi menjadi bagian dalam kultur universal
suatu kelompok masyarakat.

Ada

faktor lain yang memolakan sudut pandang dan
paradigma ini serta membentuk karakter umum suau komunitas. Bisa jadi
seseorang, tetapi bisa juga kelompok lain, yang memiliki influence atau dominasi kuat disertai terutama oleh adanya unsur
“kepentingan”. Dapat pula dikatakan bahwa pengkultusan subjek atau
individu/komunitas yang tampil dengan mengusung ikon tertentu (dari suatu
produk populer yang sedang beredar) memberikan determinasi terhadap paradigma
masyarakat untuk mengarah ke kiblat(-kiblat) yang menjadi trend pada saat itu.

Determinasi yang timbul
atas dasar kepentingan cenderung merupakan kongsi antara para pelaku pasar dan pelaku sistem
(birokrasi/elite pemerintah).

Ada

tiga poros yang yang memiliki peran dominan dalam tata hidup suatu bangsa,
yaitu negara/pemerintah, masyarakat, dan pasar. Ketiga poros ini terkoneksi
membentuk mata rantai yang seimbang. Ketika terjadi ketimpangan dalam relasi
ketiganya, maka yang paling merasakan dampaknya adalah kelompok masyarakat.

Pemerintah sebagai
pembuat dan pemegang kontrol atas regulasi-regulasi yang berlaku mengenai
aturan main dalam suatu negara hendaknya konsekuen dalam tugasnya. Tetapi yang
acap kali terjadi justru sistemlah yang didikte oleh orang atau kelompok yang
mengikutinya (terutama kelompok-kelompok kuat dari komunitas pelaku pasar). Ini
jelas merugikan banyak pihak tapi menguntungkan satu atau beberapa pihak. Di
Indonesia begitu mudahnya hal tersebut terjadi seolah-olah “sudah biasa”.


 

Wow, inilah dunia…Selamat berpikir! Dan jangan lupa bertindak, sekecil
apapun itu.

Perjalanan seribu mil diawali
dengan satu langkah pertama

(Lee Kuan-Yew, former Prime Minister of

Singapore

) …kalo gak salah…

 

So, Do Not Give Up!!!

50 Frequently Asked Questions

June 5th, 2008 by zheenchan

50 FAQ (PERTANYAAN YANG SERINGKALI MENJENGKELKAN)

1.Apa persamaan Windows 98 dengan Orde Baru?
Anda pernah menjadi korban "Illegal Operation" ya?

2.Kenapa gambar para aktivis yang saya download sering menghilang dari hardisk saya, padahal tidak dihapus?
Hmmm …. Intel apa sih yang ada di komputer Anda?

3.Apa perbedaan Intel Inside dengan intel Indonesia?
Intel Indonesia memakai Intel Inside untuk memperhebat kinerjanya. Tapi Intel Inside tidak memakai intel Indonesia untuk mempertinggi kinerjanya.

4.Bagaimana cara Rezim Orba memantau kegiatan para anggota LSM melalui internet ?
Jawabannya adalah menggalakkan penggunaan komputer yang "Intel Inside" Lha …. Anda sudah mengambil periuk nasi saya.

5.Kenapa kalau lagi chatting saya mengaku berumur 26 tahun padahal sebenarnya 46 tahun?
Karena Anda mengira lawan bicara Anda berumur 16, padahal dia berumur 61.

6.Apakah cinta yang terjalin lewat IRC itu cinta suci?
Tergantung pada apa yang disentuh ketika chatting, selain mouse dan keyboard.

7.Apa jadinya bila tarip pulsa telepon untuk Internet menggunakan tarip premium (Rp 500,-/6 detik, misalnya)?
Tetangga sebelah dapat mendengar isak tangis Anda ketika Anda mengakses detikcom

8.Apa yang harus saya lakukan jika saya tak mampu membayar rekening dari Telkom dan ISP karena mengakses internet 24 jam setiap hari?
Tanpa harus menitikan air mata, ucapkan selamat tinggal pada semua kekasih dalam kehidupan cyber Anda.

9.Saya tidak punya komputer, tapi ingin mengakses Internet. Cuma kompor gas yang saya andalkan. Bagaimana?
Sayangnya, kompor gas belum menjadi alat pembayaran yang sah.

10.Di kantor, hanya komputer di meja kerja saya saja yang dapat mengakses Internet. Yang membuat saya jengkel, sedikit saja saya beranjak dari meja, bos saya langsung nyerobot, duduk di kursi saya dan langsung online. Kalo udah gitu, pekerjaan saya bakal bertumpuk! Nah yang saya mau tanyakan, bagaimana caranya agar si bos tidak bisa online dari tempat saya?
Tukarkan komputer Anda dengan komputer si bos

11.Kenapa seorang bos selalu marah bila memergoki karyawannya sedang mengakses website porno, sedangkan dia sendiri suka sekali mengaksesnya?
Bagaimana ya …. maklumlah seperti kata pepatah "Karyawan kencing beridiri, si bos kencing sambil browsing"

12.Apa yang harus dilakukan bila sedang asyik-asyiknya melihat situs porno tiba-tiba ada kebakaran?

a.Matikan komputer
b.Hubungi psikolog yang merawat Anda. Kabarkan kepadanya bahwa sekarang Anda sudah tahu cara mengatasi kecanduan situs web porno.
c.Hubungi Dinas Pemadam Kebakaran. Beritahu bahwa Anda sudah menemukan situs web yang mampu membuat Anda panas. Tapi tegaskan bahwa saat ini tetangga Anda nyaris terpanggang api.

13.Situs web apa yang paling menjengkelkan?
Situs web yang mampu mengendus bau credit card di dompet kita.

14.Kenapa orang-orang lebih senang web mail gratis dari pada yang membayar?
Karena tak perlu pergi ke kantor kelurahan untuk mengganti-ganti identitas diri.

15.Adakah saran untuk memodifikasi IBM XT saya menjadi Pentium II dengan biaya maksimal 750 ribu rupiah?
Jangan bunuh diri

16.Apakah bedanya PC yang digunakan oleh seorang politikus dengan PC yang digunakan oleh seorang mahasiswa aktivis politik?
PC mahasiswa aktivis berisikan software demo version. PC politikus selalu dilengkapi dengan microphone tapi tidak pernah dilengkapi speaker.

17.Apa bedanya antara PAM SWAKARSA dengan CyberCanda?
Maaf, tidak ada bambu runcing di Internet.

18.Mengapa lambang N pada browser Netscape berputar ketika sedang download data?
Karena ia menjalankan prosedur yang benar. Bayangkan jika browser itu melakukan kesalahan prosedur atau penyimpangan prosedur: salah-salah sebuah peluru tajam tertuju tepat ke jidat Anda.

19.Aduhh, monitor saya buram. Apa yang harus saya lakukan?
Segeralah bergegas ke dokter mata

20.Setiap kali mengakses situs web tertentu, kenapa monitor saya sering berkedip-kedip?
Untuk mengingatkan mata Anda yang tidak mau berkedip ketika melihat gambar-gambar di situs tersebut

21.Apa yang dimaksud dengan website erotis?
Sebuah situs web yang diperuntukan bagi orang yang sabar: sabar ketika menunggu downloading image file, sabar ketika menghadapi proteksi password, sabar ketika suami/istri/pacar merengut karena ditinggalkan terlalu lama

22.Bagaimana agar pulsa telepon rumah tidak jalan tapi saya tetap saja asyik mengakses Internet?
Hubungkan komputer ke line telepon di rumah Anda, tapi akseslah Internet di kantor Anda.

23.Apakah B J Habibie mengakses Internet setiap hari?
Bisa jadi begitu, meski beliau keliatannya lebih sering menggunakan pesawat radio komunikasi, correct?

24.Bagaimana caranya mendapatkan akses Internet gratis tanpa membayar satu sen pun?
Kampanyekanlah pentingnya Internet untuk produktivitas kerja di kantor, dan bujuklah manajer Anda agar Anda sekeluarga diijinkan tinggal di salah satu ruangan di kantor.

25.Bagaimana cara agar saya tidak lagi menyukai komputer dan internet ?
Selalu bukalah segala aplikasi Internet Anda dengan menekan tombol CTRL ALT DEL

26.Bagaimana caranya supaya telnet ada gambarnya?
Sebenarnya Anda sudah bisa melihat gambar di aplikasi telnet: gambar huruf, gambar angka dan gambar simbol-simbol.

27.Apa yang akan terjadi jika Bali dijadikan ZONA NO INTERNET?
Wisatawan terbanyak yang akan berkunjung ke pulau itu hanyalah dukun santet dan ninja.

28.Bagaimana caranya menghentikan kecanduan anak saya akan Cookies?
Ajari dia mengklik tombol "CANCEL" setiap kali bertemu cookies …

29.Kenapa komputer saya sering hang kalau sedang mengakses detikcom?
Besar kemungkinan komputer Anda terserang virus AIB (Anti Informasi Blak-blakan)

30.Siapa yang mendapat e-mail terbanyak setiap hari?
Ismail?

31.Kenapa kadang-kadang koneksi ke Internet bisa putus sendiri?
Karena ISP Anda lupa bahwa ia punya pelanggan

32.Bagaimana caranya membuat semua orang membenci gambar porno?
Para pengelola situs web erotik harus hanya diperkenankan menyediakan gambar-gambar porno dengan besar file minimal 1,5 Gb

33.Bagaimana membuat seorang pecandu internet melepaskan telpon genggam dari laptopnya?
Biarkan saja dia tetap menyambungkan telepon genggamnya ke laptop, tapi cabut SIM card-nya.

34.Apa hubungan Internet dengan lengsernya Soeharto?
Well …rasanya, tak ada kaitan sebab-akibat. Keduanya sangat berbeda:
Kapan pun orang selalu ingin membuat koneksi ke Internet, tapi banyak orang bersusah payah menghapuskan catatan koneksinya ke Soeharto setelah lengser.

35.Apa akibatnya jika saya memberi cookies pada anak saya?
Pada hari ulang tahunnya yang ke 15, dia akan mendapat 18 Gb junk email

36.Bagaimana agar seorang bos memperbolehkan karyawannya mengakses situs web porno?
Sopan dan hormatlah pada dia, dan jangan lupa di hari ulang tahunnya memberi kado berisi pakaian dalam dan kaca pembesar.

37.Apa persamaan telkom dengan kondom?
Memfasilitasi Safe Sex

38.Jika monitor saya menampilkan gambar porno terus menerus, apakah akan membekas pada layarnya?
Tidak. Itu hanya akan menyibukkan kerja mesin cuci Anda

39.Apa bedanya HTML dengan politisi sektarian?
Yang satu cross-paltform, yang lain tidak

40.Apa ciri khas situs web partai politik Indonesia?
Anda akan menemukan halaman bertuliskan "Under Construction" jika mengklik link "Agenda Kerja"

41.Benarkah Netscape akan pindah ke Tel Aviv, Israel?
Bukan hal yang mustahil, dan mungkin akan mengubah namanya menjadi "Netan-Yahoo" (Diadaptasi dari sumber-sumber di Internet)

42.Kenapa cracker sering menggunakan nama samaran?
Tidak ada razia KTP di Internet

43.Apa bukti sebuah komputer baru saja dipakai oleh perempuan ganjen?
Ada bekas lipstik di layar monitor, dan joystcik-nya basah (Diadaptasi dari sumber-sumber di Internet)

44.Anda tahu link yang menyediakan gambar porno?
Ya, jika Anda menggunakan Windows 95 atau Windows 98 maka kliklah link
C:\My Documents

45.Apa yang bisa mengganggu privacy saya di Internet tapi dibutuhkan oleh anak-anak saya?
Cookies

46.Kerusakan apa yang sering ditemukan tukang reparasi komputer setelah internet merebak di Indonesia?
Kerusakan pada harddisk …. yang kedapatan basah dan berlendir

47.Apa yang harus dilakukan agar mata saya tidak cepat rusak meski harus menatap monitor komputer berjam-jam setiap harinya?
Selama komputer dinyalakan, jangan lupa matikan monitornya

48.Apa yang harus saya lakukan jika koneksi saya ke ISP sering putus?
Jangan kirim ninja ke kantor ISP itu

49.Apa yang harus saya lakukan jika di kantor sang bos memergoki saya sedang mengunjungi situs web porno?
Mintalah maaf dan berjanji tak akan mengulanginya lagi, sebelum Anda pergi ke toilet.

50.Karyawan macam apa yang di kantornya diperkenankan mengakses situs web porno?
Mmmmm …. boleh jadi mereka yang bertugas membuat desain di sebuah perusahaan pembuat pakaian dalam

Ooooiii Bue…!!! Merdeka…!!!

June 5th, 2008 by zheenchan

Quousque
tandem abutere patientia nostra?

(Berapa lama
lagikah anda akan menyalahgunakan kesabaran kami?
~Cicero~)

 

Prologue

Saudara-saudari sebangsa dan setanah air, Merdeka…! (atawa belum
ya?)

62 tahun kemerdekaan negeri ini bukanlah berarti
perjuangan anak bangsa di penjuru Indonesia sudah tuntas dan berakhir. Semangat
perjuangan untuk revolusi ’45 hendaknya tetap menyala dalam sanubari tiap insan
bumi pertiwi. Semangat yang sepatutnya menjadi daya dorong bagi kita untuk
terus berupaya menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.
Akan tetapi sebagaimana kita sadari, bahwasanya wujud riil perjuangan itu
bukanlah lagi dengan senjata, melainkan dengan tenaga dan pikiran untuk meraih
masa depan yang gemilang.

Tetapi fenomena menarik dewasa ini adalah
kecenderungan pemahaman akan kemerdekaan dalam wujudnya secara fisik. Sementara
esensi mendasar kemerdekaan itu sendiri yang lebih merujuk kepada kebebasan
kita secara ideologi, sosial-budaya, dan ekonomi nyaris hanya sekedar jargon
atau klise dalam wacana. Sehingga sementara orang dengan sempit memandang
kemerdekaan sebagai kebebasan dari kungkungan “penindas” menurut interpretasi
mereka secara lahiriah. Beranjak dari sudut pandang itu maka bermunculan
wacana-wacana separatisme yang mengatasnamakan “kemerdekaan”. Kemerdekaan dari
penjajahan yang macam apa dalam negeri ini kalau ternyata tidak lain dan tidak
bukan adalah demi kepentingan segelintir orang atau kelompok.

Tidak bisa dipungkiri bahwa harapan dan cita-cita
akan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera pasca 17 Agustus 1945 oleh para
pendahulu kita masih jauh dari yang selama ini didambakan, apalagi jika dibandingkan
dengan negara-negara tetangga macam Malaysia dan Singapura yang sudah jauh
lebih maju. Sehingga muncul pertanyaan: “sudah merdeka 100%-kah kita?” Merdeka
dalam artian terbebas dari belenggu kemiskinan, kebodohan, dan mentalitas yang
bobrok. Persoalan demikian seolah sudah mengakar dan mendarah daging turun
temurun dan melebur menjadi kultur masyarakat yang seolah biasa/wajar/lazim (a culture
in common
).

Kemiskinan menjadi pembenaran untuk meraih
kemudahan dengan segala cara, termasuk menjadi bangsa pengemis bantuan tanpa
memikirkan segala potensi yang sesungguhnya kita miliki. Kebodohan merusak
generasi dan jati diri bangsa ini sehingga menjadi biang rusaknya sistem dan
tatanan hidup masyarakat yang berlaku atau yang karena terlahir dari kebodohan
itu sendiri. Ada pula “sebagian” orang yang sebenarnya berpendidikan tinggi dan
boleh dikata “pintar”, tetapi yang acap kali kita jumpai adalah mereka yang
menggunakan kepandaiannya untuk membodohi orang lain. Hal ini tidak terlepas
dari persoalan mentalitas yang sakit, mentalitas warisan kolonial yang tidak
selayaknya dipelihara, tetapi mesti disadari dan diperbaiki jika mungkin. Jika
tidak mungkin, maka alternatif ekstrim macam revolusi sosial dengan metode
“cuci generasi” rasanya adalah yang paling ideal dan realistis. Ibarat ada
ranting pohon yang sakit, agar tidak menyebar dan menjangkiti bagian lainnya,
maka cabang itu harus dipotong lalu dicampakkan dan dibakar, tanpa kita harus
mengorbankan pohon induknya.

 

Korupsi Dalam Wacana Kemerdekaan dan Pembangunan

Seringkali kita mendengar ungkapan bahwa
kemerdekaan harus dipertahankan. Itu benar, tetapi yang paling penting adalah
bagaimana kita memaknai dan mengisi kemerdekaan itu dengan usaha-usaha riil
untuk menciptakan kemerdekaan sejati bagi seluruh rakyat Indonesia. Belanda mungkin
sudah tidak lagi menjajah kita, tetapi apa yang ditinggalkannya setelah kurang
lebih 350 tahun menguras dan menindas nusantara berupa pola-pola represif
maupun persuasif demi terakomodirnya kepentingan kolonial telah terintegrasi
dalam pola pikir empiris dan pola hidup sehari-hari.

Contoh nyata yang saat ini sedang “populer” jadi
wacana adalah persoalan korupsi yang lahir dari pola suap-menyuap penguasa era
kolonial atau VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie). Penyakit sosial
yang suka tidak suka mesti kita mahfumi bersama adanya akan tetapi sulit dalam
pendefinisian dan pemberantasannya. Bisa jadi karena sistem hukum yang rapuh
sana-sini, bisa juga karena mekanisme penegakannya yang moderat serta penuh
“kompromi”. Bisa dikatakan korupsi adalah “kebiasaan” yang karena “sudah biasa”
akhirnya menjadi tradisi yang kemudian bermetamorfosis menjadi “penyakit”.

Korupsi pada permukaannya bermula dari perbedaan
antara konsep “milik sendiri” dan “milik orang banyak”. Dalam bentuknya yang
terburuk, milik “orang banyak” itu adalah milik “publik”. Ada pendapat,
pengertian “publik” adalah bagian dari kesadaran modern. Di dunia tradisional,
demikian dikatakan, tak ada garis batas antara yang “negara” dan yang
“pribadi”, sejajar dengan tak ada garis batas antara yang “publik” dan yang
bukan. Ketika Bupati Lebak dalam novel Max Havelaar meminta rakyat
memberikan persembahan bagi dirinya, Havelaar, asisten residen Belanda itu,
mendakwanya “korupsi”. Tapi benarkah? Ada yang membela bahwa sang Bupati
(seperti Raja Louis XIV yang menyatakan l’état c’est moi – I am the state –
Saya adalah negara
) memang sejak dulu menganggap Lebak, juga rakyat dan
upeti mereka, adalah bagian dari miliknya, bahkan dirinya. Dengan kata lain,
Havelaar yang berapi-api itu memakai sebuah dalil “modern” ke sebuah dunia
“pra-modern”. Ia meleset. Korupsi dianggap salah karena ia “tak adil”:
perbuatan itu menghasilkan sesuatu yang berlebihan – uang, kekuasaan, nama
baik, juga kekejaman – yang secara berlebihan pula merugikan orang lain yang
sedang ada dalam status dan posisi lain. Maka bisa dimengerti kenapa bukan cuma
Havelaar yang marah.

Di negeri ini, negara adalah sebuah paradoks: ia
represif dan sekaligus rentan, cerewet dan sekaligus ceroboh. Polisi yang
dengan rajin menyetop sopir yang dianggap melanggar aturan negara adalah juga
polisi yang siap menerima sogok. Birokrasi yang dengan produktif mengeluarkan
regulasi adalah juga birokrasi yang mengharap agar peraturan pemerintah sering
dilanggar, dan dengan itu si pelanggar akan membayar.

Dengan kata lain, korupsi bukanlah tanda bahwa
Negara kuat dan serakah. Korupsi adalah sebuah privatisasi – tapi yang
selingkuh. Kekuasaan sebagai amanat publik telah diperdagangkan sebagai milik
pribadi, dan akibatnya ia hanya merepotkan, tapi tanpa kewibawaan. Keadilan
yang dikelola oleh kejaksaan dan kehakiman bisa dibeli dengan harga tertentu,
maka ia berperan tapi tak menjadi keadilan. Kekerasan yang dimonopoli Negara, premanisme
oleh oknum aparat, bisa jadi komoditas seperti jasa tukang pijat, ketika
seorang marinir bisa disewa untuk membunuh dan seorang anggota Kopassus bisa
dibayar untuk jadi bodyguard.

Korupsi di negeri ini
tampil berjamaah dengan birokrat dan pimpinan pemerintahan sebagai imamnya. Walaupun
dengan perasaan atau sikap optimisme yang “terpaksa”, kita beranikan diri
berkata “tidak semuanya demikian”. Tetapi haruskah dengan pernyataan itu kita memperlihatkan
kegamangan dalam memutuskan dan bertindak untuk memperbaiki keadaan yang seolah
mustahil hingga akhir jaman?

Beranjak dari wacana di atas, siapakah atau apa
yang patut dipersalahkan? Tidak ada jawaban absolut dari pertanyaan itu seraya
kita tetap berbicara tanpa usaha untuk memperbaikinya. Mengacu pada realita
yang ada, sistemlah yang dianggap sebagai satu elemen yang membentuk kerangka
kesalahan yang terjadi di negeri ini. Tetapi sistem sekalipun ternyata bukan
hal yang paling substansial karena ia hanyalah elemen minor dari konteks
besarnya (negara). Yang terpenting adalah orang-orang baik yang menjalankan
sistem itu sehingga menjadi beres sebagaimana mestinya.

Dalam situasi saat ini yang paling penting adalah
usaha dan kerja keras kita untuk membangun bangsa ini dengan penuh semangat.
Semangat ini tentunya dilandasi visi positif akan Indonesia baru yang lebih
adil dan berkepribadian luhur. Visi positif tersebut adalah visi yang lahir
dari nilai-nilai sejati bangsa ini yang tertuang dalam Pancasila. Dan itu semua
perlu suatu re-internalisasi atau menanamkan dan memaknai kembali nilai-nilai
Pancasila yang selama ini sebatas tugas hapalan di sekolah atau jadi kewajiban
rutin seremonial upacara bendera tiap hari Senin untuk dibacakan di depan orang
banyak - yang mungkin sebagian ikut upacara itu karena takut sanksi.

 

Pendidikan Generasi Muda Dan Revitalisasi Wawasan Kebangsaan

Salah satu alternatif ideal bagi pemecahan akar
masalah korupsi tersebut adalah melalui pendidikan kader intelektual atau
generasi penerus yang memiliki komitmen mutlak bagi demokrasi, memiliki kearifan
budi, dan sikap bijak akan situasi bangsa. Kita mungkin tidak bisa melakukannya
dengan tiba-tiba dan secara keseluruhan, tetapi setidaknya dari
pelajaran-pelajaran masa lalu tentang perjuangan kelompok intelektual muda
Indonesia dapat dijadikan model dasar untuk kemudian dikontekstualisasikan
dengan situasi bangsa terkini. Yang terpenting dari pelajaran itu adalah spirit
atau semangat yang menjiwai perjuangan para pendahulu serta prinsip-prinsip
luhur yang menjadi panduannya.

Dunia pendidikan adalah media atau sarana ideal
untuk mengasah dan mempertajam kembali wawasan kebangsaan kita, yakni wawasan
kebangsaan dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wawasan kebangsaan
ditempatkan pada kedudukan terutama dan penting dalam prinsip hidup berbangsa
dan bernegara.

Proses revitalisasi ini perlu terutama bagi kaum
muda sebagai generasi penerus mengingat gencarnya arus globalisasi yang tanpa
disadari mengikis identitas dan kepribadian bangsa ini. Tanpa adanya filter
yang mampu menahannya, atmosfir globalisasi dapat menciptakan generasi penerus
yang terombang-ambing dalam hal ideologi karena tidak mempunyai pegangan teguh
pada akar yang menjadi ciri khas nasional. Apalagi ikon populer yang menjadi kiblat
bagi orang muda kebanyakan adalah “sesuatu yang serba impor”. Ini dapat
dikatakan sebagai salah satu gejala degradasi kearah generasi penerus yang
bermentalitas inferior atas superioritas paradigma global (asing) yang tampil
serba “wah” dengan mengusung patron-patron populer.

Pemerintah sebagai yang memiliki wewenang untuk
melahirkan regulasi dan memegang kontrol atasnya berkewajiban untuk
mengakomodir sarana prasarana maupun sistem pendidikan yang berpihak bagi
rakyat. Institusi pendidikan dengan pola kebijakan yang populis memiliki
kewajiban moral mengemban amanat yang tertuang dalam pembukaan UUD 1945, yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa. Dengan demikian, secara perlahan-lahan, kita
kikis budaya komersialisasi di dunia pendidikan yang ternyata adalah kamuflase
lain dari korupsi.

Namun pada kenyataannya di sisi lain, ada pandangan
yang menganggap – terutama pendidikan tinggi – hanyalah sekedar formalitas
untuk memperoleh ijazah. Sehingga terkadang (bahkan sering) kita mendengar
kasus jual beli ijazah sarjana sebagai cara praktis, mudah, dan cepat ketimbang
harus membuang biaya yang lebih besar untuk duduk selama 4 atau 5 tahun di
bangku kuliah, toh hasilnya sama saja. Karena pada kenyataannya pula ada banyak
sarjana yang hanya sekedar “label” walaupun sudah capek kuliah (jangankan isi,
kulit pun ala kadarnya – lalu kenapa bisa lolos jadi sarjana?). Persoalan yang
wallahu’alam – hanya Tuhan yang tahu.

Aspek-aspek dalam dunia pendidikan janganlah lagi
dipandang sebagai sebuah “proyek” bagi sebagian unsur pengelolanya. Sudah
saatnya kita semua menunjukkan profesionalisme tulus dan dedikasi penuh bagi
dunia pendidikan kita dengan harapan terciptanya suatu tipe baru generasi
penerus bangsa yang cerdas dan bermental sehat demi kesinambungan pembangunan
nasional yang adil dan merata.

 

An
Epilogue

Peristiwa historis yang terjadi dalam rentang
waktu 62 tahun kemerdekaan kita adalah pertanda dan bukti dinamika bangsa ini
dalam proses pembelajaran dan usahanya untuk maju mengikuti jaman seperti
halnya bangsa lain di dunia. Dari situ pula, sudah seharusnyalah kita merangkai
kembali secara kontekstual semangat kebersamaan dalam persatuan NKRI yang utuh demi
pembangunan yang adil dan merata seperti halnya semangat para pendahulu kita
dulu berjuang merebut kemerdekaan. Janganlah membiarkan diri larut tanpa arah
meratapi nasib yang terjadi karena kesalahan sendiri lewat segala wacana maupun
diskusi. Jika memang sadar, perbaiki itu dan jadikan sebagai bahan pelajaran generasi
mendatang untuk tidak mengulanginya lagi.

Ada banyak potensi sumberdaya manusia maupun alam
yang kita miliki untuk dikelola dan dimanfaatkan demi kesejahteraan rakyat.
Janganlah sampai sumberdaya itu menjadi komoditas pribadi atau sekelompok orang.
Dalam logika yang sederhana bahwa pembangunan pada struktur yang paling dasar
atau di garis depannya adalah rakyat; sehingga bagaimana mungkin rakyat dapat
bekerja dan membangun sementara perut kosong alias tidak sejahtera; dan
kalaupun terisi ala kadarnya, mereka akan sibuk memikirkan apa isi perut untuk
esok hari. Jika rakyat sejahtera bukan tidak mungkin kedepannya kita akan mampu
berjuang menjadi bangsa maju dan disegani.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah para
pendahulu kita berjuang merebut kemerdekaan dan meletakkan dasar bagi
berdirinya Republik Indonesia bukanlah demi beberapa atau sekelompok orang
saja, melainkan demi segenap rakyat. Oleh karena itu perjuangan untuk mengisi
kemerdekaan kita saat ini hendaknya dilakukan dengan kerja keras yang dilandasi
semangat persatuan. Dan dengan falsafah negara yaitu Pancasila, kita ciptakan
cara pandang dan semangat kerja yang khas milik bangsa ini. Dengan kata lain,
dari nilai-nilai Pancasila terlahir etos kerja khas orang Indonesia yang sesuai
dengan karakter dan jati dirinya yang menjunjung tinggi keluhuran budaya
warisan nenek moyang.

***

Akhir Kata

Kami sebagai generasi muda adalah orang-orang
dinamis yang biasa diidentikkan dengan gerakan, aktivisme, pelopor kreativitas,
dan agen penting perubahan sosial. Namun kerap pula kaum muda dipandang sebagai
yang rentan terhadap hal-hal negatif macam narkoba atau pergaulan bebas.
Sehingga Orang tua harus mengawasi secara ekstra ketat. Kementerian Pemuda dan
Olahraga dan Dinas Sosial merasa absah melakukan pembinaan. Dan kelompok
agamawan merasa punya hak untuk menceramahi mereka sembari mengingatkan
panasnya api neraka.

Hal yang sebaliknya, masyarakat (orang tua)
gampang menjadi frustrasi karena kampanye perubahan dan perbaikan hidup yang
dilakukan pemuda dan mahasiswa, lewat cara diskusi, advokasi, dan demonstrasi,
masih jauh dari harapan. Dan lantas, sebagian mulai menyalahkan kaum muda.
Dengan murka, ada beberapa dari mereka seakan berteriak: “anak muda jangan
hanya bisa ngomong saja, buktikan!” Lebih gawat lagi, banyak juga yang mungkin
bilang: kaum muda harus bertanggung jawab untuk menuntaskan perubahan,
menyelesaikan reformasi!

Keekstreman pandangan demikian menegaskan bahwa
wacana tentang kaum muda justru sekedar menempatkan kaum muda sebagai objek.
Pemuda sekedar dilihat secara hitam-putih. Apa yang dilakukan pemuda sering
kali dianggap subkultur, bahkan tak jarang disebut subversif. Wacana dan ide
dominan tentang kaum muda justru menepikan suara kaum muda dalam memaknai
dirinya sendiri.

Bahwa masyarakat punya harapan tertentu pada
pemuda, itu adalah kewajaran. Bahwa masyarakat memiliki preferensi nilai
tertentu dan karena itu mungkin bertentangan dengan kaum muda, itu adalah
keniscayaan. Dan bahwa kemudian masyarakat menilai dan mengkritik kaum muda,
itu adalah kemestian. Janganlah sampai masyarakat menilai dengan penghakiman
dan memaksakan preferensi nilai yang dimilikinya. Bila hal demikian berkembang,
justru selamanya kita menganggap kaum muda sebagai objek yang membuat mereka
justru kian terasing dengan sekeliling, terpojok dalam kekelaman.(N. Budi
Baskoro, Kalteng Pos: Senin, 22 Januari 2007
).

Sudah saatnya kita bekerja bahu-membahu
bersama-sama sembari saling mengisi. Kaum muda juga hendaknya lebih proaktif
untuk berinisiatif mengambil peran dalam perjuangan membangun masa depan yang
cerah, sejahtera, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Namun
masih harus banyak belajar dan menimba pengalaman. Tentunya hal ini akan
berjalan ideal dengan bimbingan masyarakat (orang tua) sebagai yang lebih
berpengalaman dan telah lebih dahulu berperan aktif dalam perjuangan tersebut.

 

Palangka Raya, 12 Agustus 2007

Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut

September 17th, 2007 by zheenchan

Cilik_riwut1



Foto bapak Cilik Riwut tahun 1956 di daerah Sampit, diabadikan oleh seorang dokter Jerman dalam sebuah acara adat Dayak. (sumber: http://www.menne-indonesia.de/Helm_ab_zu.85.0.html)

                        

                        Identitas Dayak

 

Judul : Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut
Penerbit : Galangpress
Cetakan : I, April 2006
Tebal : xxii + 248 Halaman

 

BUKU ini merupakan biografi Tjilik Riwut. Ia adalah tokoh penting dalam sejarah penyatuan Kalimantan ke dalam Indonesia merdeka ketika negeri kita yang masih muda waktu itu terancam perpecahan akibat politik agresi militer Belanda II.

Tjilik Riwut lahir sebagai anak Desa Kasongan. Ia mungkin tidak akan menjadi buah bibir orang di luar desa itu jika bukan pejuang, pendiri dan gubernur pertama Provinsi Kalimantan Tengah, anggota DPR, dan akhirnya setelah meninggal dianugerahi bintang jasa
sebagai pahlawan nasional. Ia telah menjadi orang yang luar biasa berbeda dengan orang
kebanyakan. Ia bukan orang Dayak biasa karena prestasi yang diraihnya, tetapi ia
sungguh-sungguh orang biasa karena pergulatan identitas sepanjang hidupnya.

Ia menjadi seperti kebanyakan orang Dayak di desa Kasongan yang harus berhadapan dengan
perubahan karena daya yang sebagian besar tidak mereka pahami dari mana asal mulanya. Ia
menjadi bagian dari kebanyakan orang yang sehari-hari merasakan, betapa sulitnya berurusan
dengan identitasnya karena harus menempatkan diri dalam setiap situasi, baik ideologi,
politik, maupun sosial dan budaya yang terus berubah, dipenuhi ketegangan dan konflik.

Membaca buku ini kita akan tahu bahwa Tjilik Riwut bukanlah pribadi yang pasif menerima
arus perubahan disekitarnya. Ia adalah pribadi yang sangat aktif menanggapi perubahan. Ia
bukan semata-mata konsumen perubahan tetapi juga produsen perubahan. Ia membuat banyak
perubahan bagi masyarakat dan dirinya sendiri karena ia menjadi motor perubahan itu. (Pusat Data Redaksi)**

Sejarah GMTPS Pimpinan Christian Simbar a.k.a “Uria Mapas”

September 15th, 2007 by zheenchan

Kalteng Pos, Sabtu, 9 Desember 2006

Perundingan Madara Hasilkan Pembentukan Provinsi Kalteng
=Sekelumit Buku Sejarah Perjuangan Pembentukan Provinsi Kalteng (2)=

   
        Wilayah Barito, Kapuas dan Kotawaringin sangat kaya akan sumber daya alam (SDA). Namun sayang selama tergabun dengan Kalimantan Selatan, tak menikmati hasil kekayaan itu. Dalam kondisi memprihatinkan ini, muncul keinginan tokoh Dayak untuk memiliki provinsi sendiri yang terpisah dari Kalsel.

ELLEN D, Palangka Raya

        KEINGINAN terbentuknya provinsi sendiri ini menghasilkan Serikat Kaharingan Dayak Indonesia (SKDI) tanggal 20 Juli 1950 di Desa Tangkahen. Sahari Andung merupakan ketuanya. Dalam kongres SKDI di Desa Bahu Palawa tanggal 15 – 22 Juli 1953, muncul keinginan masyarakat Dayak agar diberikan daerah otonom lepas dari Kalsel. Kongres tersebut mengeluarkan mosi Nomor 1/Kong/1953 tanggal 22 Juli 1953 yang isinya mendesak pemerintah pusat membentuk Provinsi Kalteng sebelum Pemilu 1955 dengan wilayah meliputi Kabupaten Barito, Kapuas dan Kotawaringin. Namun, mosi itu tak ditanggapi oleh Mendagri masa itu.

        Desember 1955 di Jakarta, Kongres Rakyat Seluruh Indonesia (KRSI) dilaksanakan. Ini merupakan kesempatan masyarakat Dayak menegakkan kembali tuntutannya. Tetapi, sekali lagi, tuntutan tersebut belum dapat dipenuhi pemerintah pusat. Kongres tersebut hanya menyetujui pemekaran Provinsi Kalimantan menjadi tiga, yaitu Kalbar, Kalsel dan Kaltim. Wilayah Kalteng (Barito, Kapuas dan Kotawaringin) berada di bawah Kalsel.

        Alasan pemerintah pusat saat itu, Kalteng belum mampu membiayai urusan rumah tangga daerah sebagai daerah otonom dan keadaan keuangan negara masih belum mengizinkan membentuk provinsi baru. Sumber daya manusia (SDM) di wilayah ini terutama tenaga terampil dan terdidik untuk tugas penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan juga dinyatakan masih kurang.
        “Masyarakat Dayak Kalteng sangat menyesalkan pidato radio Mendagri (masa itu, Red) yang menyatakan belum saatnya dibentuk Provinsi Kalteng karena penduduknya baru mencapai sekitar 500 ribu jiwa. Dikatakan pula suku Dayak belum menjadi suatu komunitas yang memiliki ketetapan hidup/masyarakat yang mapan dan belum ada kaum intelektualnya. Sebenarnya alasan itu sangat lemah dan dicari-cari,” demikian sekilas isi buku sejarah perjuangan pembentukan Provinsi Kalteng yang ditulis Drs F Sion Ibat dan Chornain Lambung SmHk ini.

        Meskipun tuntutan tak dipenuhi, semangat isen mulang (pantang mundur) untuk mencapai provinsi otonom tetap tertanam di hati masyarakat Dayak saat itu. Di satu sisi, tokoh Dayak menggelar konser rakyat Kalteng yang dipelopori Mahir Mahar. Di sisi lain, para pemuda di bawah pimpinan Christian Simbar alias Uria Mapas bergelar Mandulin tengah berjuang mengangkat senjata melalui Gerakan Mandau Talawang Pancasila (GMTPS). Anggota GMTPS bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan. Karena itu, GMTPS disinyalir oleh pihak keamanan sebagai gerakan yang membuat keamanan tak stabil.

        Momentum ini digunakan kongres mendesak pemerintah pusat agar segera membentuk Provinsi Kalteng. Kongres Rakyat Kalteng kemudian digelar di Gedung Chung Hua Tsung Hui, Jalan P Samudera Banjarmasin tanggal 2 – 5 Desember 1956. Sementara kongres berlangsung, pasukan GMTPS melakukan perjuangan bersenjata di daerah pedalaman. Sejak arena kongres, Sahari Andung sudah menduga akan ada penangkapan. Dugaan itu betul karena sekembalinya dari kongres, Sahari Andung, Willy Djimat dan Robert Bana ditangkap di tempat masing-masing oleh pihak keamanan dan dijebloskan ke penjara Teluk Dalam, Banjarmasin selama tiga bulan.

        “Tanggal 19 Oktober 1953, markas induk GMTPS di Desa Bundar diserang aparat Kepolisian Buntok sehingga menimbulkan korban warga sipil, yaitu Tina (murid sekolah rakyat/SR) yang mati/meninggal di tempat. Getuk dan Nyurek (masyarakat) mengalami luka serius. Akibat serangan polisi, 86 anggota GMTPS dipimpin Christian Simbar melakukan serangan balik terhadap markas Kepolisian Buntok pada 22 November 1953. Pertempuran itu membawa banyak korban baik dari aparat keamanan, pegawai negeri, masyarakat sipil maupun GMTPS. Markas polisi dikepung dari dua jurusan sehingga tak ada jalan keluar dan banyak dari mereka yang jadi korban,” tulis kedua penulis pada halaman 22.

        Pemilu 1955 menghentikan kegiatan fisik GMTPS karena tak ingin dikatakan sebagai pihak yang membuat kekacauan. Pasca pemilu, kontak senjata kembali terjadi. Antara lain di Pujon pada November 1955, kontak senjata di Desa Madara dengan TNI, Desa Butong, Desa Hayaping dan Desa Lahei. Dalam bentrok fisik tentara dan GMTPS di Hayaping pada 15 Desember 1955, Rusine Tate yang istri Christian Simbar menjadikan dirinya umpan untuk ditangkap Batalyon 605 sehingga pasukan GMTPS dapat menghindar dan menyelamatkan diri.

        Kegiatan fisik GMTPS semakin meningkat pada 1956 karena belum ada tanda-tanda keseriusan pemerintah membentuk Provinsi Kalteng. Kontak senjata dengan aparat keamanan sering terjadi. Akhirnya, berdasarkan Surat Keputusan Mendagri tanggal SK Nomor U/34/41/24 tanggal 28 Desember 1956, kantor persiapan Provinsi Kalteng mulai dibentuk terhitung 1 Januari 1957. Pemerintah pusat melalui siaran radio juga meminta agar kontak senjata dihentikan.

        Pantia Penyelesaian Korban Kekacauan Daerah (PPKKD) Kalteng yang diketuai Mahir Mahar dibentuk. Tugasnya, melakukan pembicaraan dengan GMTPS. Tanggal 1 Maret 1957, terjadilah perundingan di Desa Madara, Buntok. Perundingan menghasilkan beberapa keputusan penting, antara lain pembentukan Provinsi Kalteng dengan wilayah meliputi Kabupaten Barito, Kapuas dan Kotawaringin dapat disetujui pemerintah. Tidak ada tuntutan/proses hukum atas semua korban, baik dari pihak GMTPS maupun pihak aparat keamanan dan penyaluran anggota GMTPS yang berminat menjadi tentara, polisi atau pegawai negeri. Kemudian, bantuan modal bagi anggota GMTPS yang ingin berusaha sesuai keahliannya dan penyerahan senjata GMTPS kepada pemerintah melalui upacara adat. Perundingan dalam perkembangannya berakhir dengan pembentukan Provinsi Kalteng pada 23 Mei 1957 dengan Tjilik Riwut sebagai gubernur pertamanya.

        “Kalteng adalah satu-satunya provinsi yang dibentuk dengan UU Darurat. Pembentukannya merupakan titik temu antara tuntutan masyarakat Dayak baik melalui perundingan maupun gerakan bersenjata GMTPS dengan keseriusan pemerintah dalam menyikapi tuntuta tersebut. Selanjutnya, setiap tanggal 23 Mei diperingati sebagai hari jadi Provinsi Kalteng,” tulis Sion Ibat dan Chornain Lambung. (habis) ==> Dari situs koran lokal "Kalteng Pos Online"