Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut

Cilik_riwut1



Foto bapak Cilik Riwut tahun 1956 di daerah Sampit, diabadikan oleh seorang dokter Jerman dalam sebuah acara adat Dayak. (sumber: http://www.menne-indonesia.de/Helm_ab_zu.85.0.html)

                        

                        Identitas Dayak

 

Judul : Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia: Belajar dari Tjilik Riwut
Penerbit : Galangpress
Cetakan : I, April 2006
Tebal : xxii + 248 Halaman

 

BUKU ini merupakan biografi Tjilik Riwut. Ia adalah tokoh penting dalam sejarah penyatuan Kalimantan ke dalam Indonesia merdeka ketika negeri kita yang masih muda waktu itu terancam perpecahan akibat politik agresi militer Belanda II.

Tjilik Riwut lahir sebagai anak Desa Kasongan. Ia mungkin tidak akan menjadi buah bibir orang di luar desa itu jika bukan pejuang, pendiri dan gubernur pertama Provinsi Kalimantan Tengah, anggota DPR, dan akhirnya setelah meninggal dianugerahi bintang jasa
sebagai pahlawan nasional. Ia telah menjadi orang yang luar biasa berbeda dengan orang
kebanyakan. Ia bukan orang Dayak biasa karena prestasi yang diraihnya, tetapi ia
sungguh-sungguh orang biasa karena pergulatan identitas sepanjang hidupnya.

Ia menjadi seperti kebanyakan orang Dayak di desa Kasongan yang harus berhadapan dengan
perubahan karena daya yang sebagian besar tidak mereka pahami dari mana asal mulanya. Ia
menjadi bagian dari kebanyakan orang yang sehari-hari merasakan, betapa sulitnya berurusan
dengan identitasnya karena harus menempatkan diri dalam setiap situasi, baik ideologi,
politik, maupun sosial dan budaya yang terus berubah, dipenuhi ketegangan dan konflik.

Membaca buku ini kita akan tahu bahwa Tjilik Riwut bukanlah pribadi yang pasif menerima
arus perubahan disekitarnya. Ia adalah pribadi yang sangat aktif menanggapi perubahan. Ia
bukan semata-mata konsumen perubahan tetapi juga produsen perubahan. Ia membuat banyak
perubahan bagi masyarakat dan dirinya sendiri karena ia menjadi motor perubahan itu. (Pusat Data Redaksi)**

Leave a Reply