Curhat lah lewhh…

Curhat Si Anak Domba…

Anak Muda: Yang Memberontak dan Yang
Ingin Bertobat

 

Hari minggu aku bangun pagi-pagi, lalu mandi
dan gosok gigi; langsung pakai baju yang rapi soalnya mau ikut misa suci…

Aku ini adalah orang muda katolik, walau ke
gereja tidak sesering pastor yang setia menanti untuk melayani dalam misa pagi,
karena kadang-kadang kesiangan (maklumlah karena kebiasaan begadang mahasiswa),
dan aku memang bukan pastor atau orang yang terobsesi pengen seperti pastor.

Berdosakah itu atau tidak aku tidak tahu
pasti, yang jelas sudah semenjak SMP aku tinggalkan kebiasaan mencuri uang
untuk jajan dari dompet Mami atau ngakalin uang kembalian membeli rokok punya
Papi. Tapi Sekarang sudah nggak lagi, nanti masuk neraka katanya.

Aku sekarang terkadang masih suka nongkrong
dengan teman-teman, duduk ngobrol sambil
mengkonsumsi miras berlabel Bir atau Malaga, tetapi tidak lantas mengganggu
cewek cantik yang lagi lewat dan berjalan sendirian atau memalak orang-orang
yang lalu lalang. Bagiku itu hanyalah sekedar salah satu model bersosialisasi
yang tidak harus selalu diikuti setiap kali kesempatan dan menjadi kewajiban
(sebagian bahkan banyak orang “mengharamkan” lifestyle macam begini). Aku pun sadar itu merusak badan.

Memang begitulah pergaulan, apalagi anak-anak
muda jaman sekarang sudah tahu free-sex
dan kehidupan malam. Untunglah bagiku semua itu bukan menjadi suatu pilihan
yang mesti kuambil menjadi sebuah jalan atau tempat pelarian. Aku masih punya
prinsip dan nilai-nilai moral yang bisa jadi pegangan yang kudapat dari orang
tua dan ajaran-ajaran mengenai iman di sekolahan. Karena pada dasarnya, segala
sesuatu memiliki batasan, terutama mengenai apa yang baik dan apa yang buruk.
Dalam pemahamanku, perbandingan-perbandingan kontradiktif macam itu aku mahfumi
sebagai “suatu perimbangan semesta”. Rumit memang…

        Kalau ada yang komentari diriku sekarang ini,
maka akan kujawab: “Itu urusanku pribadi, mau baik atau buruk diriku urusilah dirimu
sendiri. Toh tidak ada yang dirugikan atau yang merasa demikian. Yang aku
butuhkan bukanlah komentar tetapi nasehat, kritik, dan saran yang kiranya
mengena untuk membuatku lebih mantap melihat masa depan (yang sebenarnya
tidaklah terlalu panjang…)”. Tampang jutek
bukan berarti orangnya demikian. Buktinya aku selalu berusaha terbuka untuk
setiap masukan, karena demikian pula yang aku pelajari dari kawan-kawanku yang
jauh lebih dewasa yang selalu berusaha saling terbuka dalam batas-batas etika.

 Sekarang aku sudah
jadi mahasiswa, banyak belajar dari buku-buku tentang ideologi, mengenai
keadilan sejati yang kata salah satu pemikir hanya bisa tercipta dalam dunia
yang tanpa kelas.

Nalar dan logikaku pun bukan lagi sekedar
modal mengkritisi dan berargumen dengan gaya “politikus kampungan” (seperti
yang kebanyakan: politikus duit) dalam
forum resmi, debat, atau diskusi, tetapi lebih untuk merefleksikan visi-misiku
dan mencari tahu apa yang bisa aku perbuat untuk “gereja dan tanah air”
(walaupun untuk hal-hal pribadi terlewatkan; akhir bulan terkadang krisis
jajan, rokok, dan nasi).

Aku ini tak hidup sendiri, makanya hidup
mesti saling berbagi atau memberi dari yang lebih kita punyai, itu yang Oom
Kris bilang. Kalau mau tahu lebih banyak baca saja Perjanjian Baru, disitu
termuat biografi dan petuah-petuah bijakNya.

Dari teman aku belajar tentang fraternitas,
persaudaraan sejati dalam konteks katolisitas, sebuah persaudaraan dengan mode
interaksi saling memperkaya wawasan dan pengetahuan demi tercapainya
intelektualitas. Semua itu diimbangi dengan satu semangat spiritual sebagai
kaum muda katolik, yaitu kristianitas.

Dari situ aku mulai beranjak untuk belajar
tentang lingkungan sosial dan masyarakat lewat sudut pandang dan pemahaman yang
lebih kritis tentang konsep ekonomi, politik, falsafah kebangsaan, dan
pemerintahan pada ranah kontekstual. Nilai-nilai perjuangan gerakan mahasiswa
pun menjadi wacana yang hangat untuk didiskusikan (digosipin) sambil begadang.

Tapi dari semua itu janganlah menganggap
diriku ini termasuk golongan orang pintar karena memang “belum” pintar. Masih
banyak hal yang mesti kualami dalam berproses untuk pengalaman yang mematangkan
pribadi.
Seperti yang tertulis;
“iman tanpa perbuatan adalah mati”. Sebuah ungkapan yang secara harfiah aku artikan
bahwa “segala sesuatu dalam hati dan pikiran mestinya dilaksanakan dalam
tindakan nyata”, terutama hal-hal positif yang sifatnya membangun diri dan
sesama. Untuk itulah aku masih perlu bimbingan, terutama dari yang lebih tua
dan berpengalaman.

Dukunganlah yang aku butuhkan, bukan
penghakiman. Nasehat dan teguranlah yang akan mengajari aku hingga menjadi
pengalaman, bukan celaan. Dampingan dan tuntunan untuk bertindak yang kuharapkan,
bukan sikap yang meremehkan. Kepercayaan dan kesempatan untuk membuktikan bahwa
aku bisa itulah yang diperlukan, bukan dijadikan sebagai objek atau seolah kelompok
masyarakat kelas dua.

Aku
bukan orang hebat karena belum berbuat ”nekat” untuk mengubah apa yang bisa aku
ubah dari sebagian wajah dunia ini. Aku juga bukan salah satu orang yang paling
benar di muka bumi ini, karena ketika berbuat keliru, banyak orang mengatakan
”aku ini tidak bisa menghindari kesalahan ketika pada waktunya terjadi tanpa
diharapkan karena itulah kodratku sebagai manusia”. Jadi, kesimpulanku: karena
orang lain selain aku juga manusia, maka mereka pun demikian.

Syukurlah
karena aku masih bisa membedakan hitam dan putih, walau kadang kala terjebak
untuk membuat pilihan pada sisi dunia yang abu-abu, tetapi dengan satu
pembenaran yang berpijak pada moralitas. Memang dari sudut pandang obyektif
bukanlah suatu pembenaran yang bisa dianggap benar secara mutlak, karena ketika
pilihan itu dijatuhkan pada satu hal, akan ada hal lain yang ”dikorbankan”.

***

Leave a Reply