Marxisme dan Aksi

Demonstrasi-demonstrasi anti-kapitalisme belakangan ini telah
menyatukan banyak kelompok-kelompok yang berbeda untuk melawan pengrusakan
lingkungan hidup, rasialisme, eksploitasi negara ketiga, dan juga banyak kaum
muda yang memprotes semua keadaan secara umum. Mereka sudah menghancurkan mitos
bahwa semua orang bahagia dan bahwa sistem kapitalisme sudah diterima sebagai
satu-satunya bentuk kemasyarakatan.

Kita melihat di sekeliling kita
kesengsaraan yang disebabkan oleh sistem ini. Kelaparan, perperangan,
pengangguran, tunawisma, dan keputusasaan, ini semua adalah tindak kekerasan
yang disebabkan oleh sistem ini terhadap jutaan manusia setiap harinya. Melihat
dan mengalami kehancuran dan kekacauan tersebut, kaum muda dimana saja terdorong
untuk memprotes.

Akan tetapi, keterlibatan di dalam organisasi politik
tidaklah diminati oleh banyak kaum muda, yang dapat dimengerti ingin melakukan
sesuatu, dan melakukannya sekarang juga. Kenyataannya, usaha untuk
mempertentangkan organisasi, diskusi dan debat dengan ‘aksi langung’ (direct
action)
adalah menyesatkan. Ide-ide Marxisme bukanlah merupakan subjek
studi akademis, mereka adalah petunjuk untuk aksi. Kita semua mendukung aksi,
tetapi aksi haruslah direncanakan dengan matang, dengan tujuan yang nyata dan
objektif bila ingin berhasil. Jika tidak, kita akan berakhir dengan aksi tanpa
arah. Selain itu, tanpa organisasi politik, siapakah yang menentukan aksi apa
yang akan diambil, kapan dan dimana?

Tidak ada aksi yang lebih besar
daripada mengambil alih kontrol kehidupan kita melalui mayoritas masyarakat. Di
dalam aksi tersebut, terdapat intisari daripada revolusi. Bukan hanya aksi tanpa
tujuan, tetapi aksi massa yang demokratis dan sadar, perjuangan bukan hanya
melawan kapitalisme, tetapi perjuangan untuk masyarakat yang baru,
sosialisme.

Demonstrasi baru-baru ini pada May Day (hari buruh sedunia –
catatan penerjemah) digunakan oleh media para bos-bos untuk mengobarkan histeria
sampah mereka. Mereka membesar-besarkan aksi corat-coret pada monumen bersejarah
dan patung Churchill. Akan tetapi, pembesar-besaran tersebut terhenti oleh
berita bahwa individu yang bersalah bukanlah seorang perusuh, melainkan bekas
angkatan laut yang sekarang belajar di Universitas Anglia di Cambridge (sebuah
universitas ternama di Inggris – catatan penerjemah). Berdiri di hadapan hakim,
dia mengantarkan sebuah pidato mengutuk imperialisme dan sikap anti-Yahudi dari
Churchill. Pidato tersebut mempengaruhi sang hakim, yang menunjukkan posisi
kelasnya dengan mengejek eks-tentara muda tersebut karena ketergantungannya pada
pinjaman mahasiswa, “kau lihat sendiri, kamu tidak bisa hidup tanpa kapitalisme”
ujar sang hakim.

Juga tampak bahwa seorang murid dari sekolah Eton
(sekolah menengah yang sangat ternama di Inggris) ikut serta dalam pemecahan
kaca di restoran McDonalds. Ini adalah gejala sebuah masyarakat yang sudah
menemui jalan buntu, bukan hanya kelas pekerja dan kaum muda kelas menengah yang
memberontak, bahkan lapisan kelas atas pun memberontak.

Jadi, bagaimana
kelanjutannya? Pengorganisir demo tersebut mengatakan kepada kita bahwa ini
bukanlah protes untuk mengamankan perubahan, perubahan kecil (reform)
ternyata hanyalah buang-buang waktu. Tidak, cukup dengan ikut serta dalam apa
yang mereka sebut “karnival” kita akan menjadi orang yang lebih baik, dan
akhirnya semakin banyak orang yang akan ikut serta, sampai sebuah massa kritis
tercapai dan kita semua tidak menghiraukan kapitalisme, tidak membayar tagihan
kita, sampai semuanya hilang. Sungguh sebuah mimpi yang kekanak-kanakan! Maksud
baik mereka yang memprotes tidaklah dipertanyakan. Akan tetapi, banyak maksud
baik tersebut membuka jalan ke neraka. Apakah kita benar-benar percaya bahwa
bila kita semua ‘menempatkan diri kita di luar kapitalisme’, para bos-bos tidak
akan berbuat apapun untuk mempertahankan sistem mereka? Taktik burung unta ini
dimana kita mengubur kepala kita di dalam tanah sampai mereka semua pergi
menghilang adalah tidak serius. Begitu juga aksi. Dalam kenyataannya, ini adalah
sebuah non-aksi yang tidak bertanggung jawab.

“Organisasi
Swadaya”

Organisasi anarkis selalu bersembunyi di belakang
topeng “organisasi swadaya”. Mereka mengklaim bahwa mereka tidak mempunyai
pemimpin, tidak mempunyai kebijakan, dll. Tetapi, siapakah yang membuat
keputusan? Bila tidak ada kepemimpinan dan tidak ada kebijakan, maka tidak akan
ada aksi dalam segala bentuk. Demonstrasi-demonstrasi baru-baru ini sudah
diorganisir dan dikoordinasi dalam skala internasional. Bagus, itu sudah
seharusnya. Akan tetapi, tanpa organisasi dan demokrasi, tidak ada seorangpun,
kecuali sebuah kelompok kecil di atas, mempunyai suara untuk memutuskan mengapa,
dimana, dan kapan demonstrasi tersebut dilaksanakan. Pergerakan macam ini tidak
akan menggetarkan lutut kapitalisme internasional.

Salah satu kelompok
anarkis yang terkenal di Inggris, Reclaim the Streets (Menuntut Kembali
Jalan), menunjukkan hal tersebut melalui publikasi May Day mereka,
“Maybe”. Siapa yang menulis artikel-artikel tersebut, siapa yang
memutuskan artikel apa yang diterbitkan dan yang tidak diterbitkan, siapa yang
mengedit artikel tersebut, darimana uang datang? Maksud kami disini bukanlah
untuk menuduh mereka dengan tuduhan pembukuan yang mencurigakan – kami hanya
ingin menunjukkan bahwa “ketidakadaan kepemimpinan” adalah sebuah mitos
organisasi swadaya.

Di halaman ke 20, mereka menyatakan “Reclaim the
Street adalah sebuah organisasi yang non-hierarki, spontan, dan swadaya. Kami
tidak mempunyai pemimpin, komite, dewan direktur, juru bicara. Tidak ada unit
sentral untuk membuat keputusan, rencana strategis, dan perancangan ideologi.
Tidak ada keanggotaan dan tidak ada komitmen formal. Tidak ada rencana utama dan
tidak ada agenda.”

Ada dua problem disini. Pertama-tama,
siapakah “kami”, yang membuat pernyataan di atas, dan siapakah yang memutuskan
ini. Kedua, bila ini adalah benar, ini bukanlah sesuatu yang harus
dibangga-banggakan. Suka atau tidak, tidaklah mungkin sistem kapitalisme akan
diruntuhkan oleh metode yang serampangan dan tak teliti ini. Tidak ada teori,
tidak ada analisis masyarakat yang logis. Untuk menyombongkan absennya arah,
absennya tujuan dan absennya logika, di hadapan musuh kapitalisme internasional
yang sangatlah teroganisir dan brutal, adalah sebuah hal yang sangatlah tidak
bertanggung jawab.

Dalam kenyataannya, pimpinan-pimpinan gerakan ini
tidaklah hampa dalam ideologi, mereka adalah kaum anarkis. Anarkisme bukan hanya
sebuah terminologi yang kosong, anarkisme datang dari kata Yunani
anarchos’ yang berarti ‘tanpa pemerintahan’. Bagi kaum anarkis, negara
– institusi pemerintahan, tentara, polisi, pengadilan, dan lain-lain – adalah
sebab utama dari semua yang salah di dunia. Negara harus dihancurkan dan diganti
bukan dengan bentuk negara yang baru, tetapi dengan implementasi secara segera
masyarakat tanpa kelas.

Oposisi terhadap negara dan otoritas menghasilkan
kesimpulan untuk menolak segala bentuk aktivitas parlemen, partai politik, atau
perjuangan untuk segala perubahan kecil, penolakan terhadap perubahan politik
melalui negara.

Tentu saja Marxisme juga menentang dominasi brutal oleh
negara kapitalis. Marx melihat di kemudian hari sebuah masyarakat tanpa negara,
“sebuah perserikatan di mana perkembangan setiap individu adalah kondisi untuk
perkembangan tanpa halangan untuk semuanya.” Ini adalah masyarakat yang mandiri.
Pertanyaannya adalah bagaimana caranya untuk mencapai hal
tersebut.

Karena anarkisme melihat bahwa akar semua masalah adalah di
dalam negara, maka anarkisme percaya bahwa masalah tersebut dapat dipecahkan
dengan kehancuran negara. Di pihak yang lain, Marxisme melihat divisi masyarakat
ke dalam kelas-kelas, kelas minoritas yang memiliki alat produksi kekayaan dan
kelas mayoritas yang jerih payahnya merupakan sumber kekayaan tersebut, sebagai
akar dari masalah. Divisi masyarakat ke dalam kelas inilah yang melahirkan
negara – karena kelas minoritas memerlukan sebuah kekuatan yang spesial untuk
mempertahankan kekuasaannya atas kelas mayoritas – sebuah negara yang sudah
berevolusi selama ribuan tahun menjadi sebuah struktur yang kompleks seperti
yang kita lihat sekarang ini.

Pembasmian
Negara

Negara kapitalis moderen dapatlah mengenakan banyak
topeng, monarki, republik, kediktaturan, akan tetapi pada akhirnya tujuan negara
kapitalis adalah sama, untuk mempertahankan kekuasaan minoritas kelas kapitalis.
Maka dari itu, tujuan dari Marxisme bukanlah semata-mata membasmi negara, tetapi
mengakhiri masyarakat kelas.

Negara terlahir dari divisi masyarakat ke
dalam kelas-kelas untuk melindungi kepemilikan pribadi. Selama masih ada
kelas-kelas, negara akan selalu ada. Jadi, bagaimanakah masyarakat kelas dapat
diakhiri?

Bukan dengan menghiraukannya, tetapi hanya dengan kemenangan
salah satu kelas yang berselisih. Kemenangan untuk kapitalisme berarti
kehancuran bagi jutaan umat manusia. Seperti yang Marx jelaskan, pilihan yang
kita hadapi bukanlah sosialisme atau status quo, tetapi sosialisme atau
barbarisme. Usaha terus-menerus oleh kapitalisme untuk mengejar keuntungan
finansial akan mendorong jutaan manusia ke dalam kemiskinan dan kelaparan. Usaha
mereka untuk mengkontrol pasar dan bahan mentah akan menyebabkan perang dan
kehancuran tanpa akhir.

Kemenangan kelas pekerja hanya dapat berarti
kehancuran negara kapitalis. Akankah para kapitalis menerima kekalahan mereka
dengan sportivitas, mundur secara tenang? Tidak, semua sejarah menunjukkan bahwa
mereka tidak akan menerima kekalahan mereka. Buruh haruslah membangun sebuah
negara yang baru, untuk pertama kalinya untuk membela kekuasaan mayoritas atas
minoritas.

Lenin di dalam karya maha-besarnya, Negara dan Revolusi,
berargumen, “Kaum Proletariat memerlukan negara hanya untuk sementara. Kita
tidaklah sama sekali berbeda pendapat dengan kaum anarkis mengenai pembasmian
negara sebagai tujuan. Kita tetap mempertahankan bahwa untuk mencapai tujuan
tersebut kita harus sementara menggunakan instrumen, sumber daya, dan metode
kekuasaan negara untuk melawan kaum pemeras.”

Begitupun juga Trotsky di
dalam Stalinisme and Bolshevisme menjelaskan, “Kaum marxis setuju sepenuhnya
dengan kaum anarkis mengenai tujuan akhir: likuidasi negara. Kaum Marxis adalah
statis (seseorang yang memegang teguh konsep negara – catatan penerjemah) hanya
dalam batasan bahwa seseorang tidak akan bisa mencapai tujuan melikuidasi negara
hanya dengan semata-mata menghiraukannya.”

Dari permulaannya, negara
tersebut tidak akan seperti mesin negara sebelumnya. Dari hari pertama, negara
tersebut dalam kenyataannya adalah setengah negara (semi-state). Tugas
dari semua revolusi sebelumnya adalah untuk mengambil alih kekuasaan negara.
Dari pengalaman Komune Paris 1871, Marx dan Engels menyimpulkan bahwa
tidaklah mungkin bagi buruh untuk hanya semata-mata menggunakan aparatus negara
yang dulu, mereka sebaliknya harus menggantikannya dengan negara yang sepenuhnya
baru, untuk melayani kepentingan dari mayoritas dan meletakkan dasar masyarakat
sosialis.

Untuk memastikan bahwa kaum pekerja mempertahankan kontrol atas
negara, Lenin mengajukan bahwa semua pejabat yang bertanggungjawab harus dipilih
dan mereka dapat dipanggil kembali, dan dibayar tidak lebih dari gaji seorang
pekerja ahli. Semua tugas birokrasi haruslah dirotasi. Tidak ada tentara kecuali
tentara sipil, dan boleh kami tambahkan, semua partai politik kecuali kaum fasis
diperbolehkan untuk berorganisasi.

Tugas dari negara tersebut adalah
untuk mengembangkan ekonomi untuk melenyapkan kemiskinan. Semakin berkurang
kemiskinan, semakin berkurang perlunya mengatur masyarakat, semakin berkurang
perlunya sebuah negara. Masyarakat kelas dan negara akan mulai lenyap ketika
pemerintahan rakyat, kekuasaan suatu kelas terhadap kelas yang lain, diganti
dengan sistem administrasi, penggunaan sumber daya yang terencana untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat.

Panggilan utopis anarkisme untuk menghancurkan
negara dalam satu malam menunjukkan tidak adanya pengertian tentang negara
ataupun program aksi yang diperlukan untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh
dirinya sendiri.

Sebagai filosofi moderen, anarkisme berkembang pada abad
ke-19 beserta dengan perkembangan pesat kapitalisme dan mesin negaranya.
Anarkisme ini merepresentasikan pemberontakan kaum borjuis kecil yang kehilangan
posisinya di dalam masyarakat, terjepit oleh perkembangan monopoli.

Kasus
mereka diperdebatkan oleh Mikhail Bakunin dan pendukungnya di dalam
Internasional Pertama. Di konferensi anarkis tahun 1872, mereka berargumen
“Aspirasi proletariat tidak boleh mempunyai tujuan yang lain selain pembentukan
organisasi ekonomi yang benar-benar bebas dan federasi berdasarkan kerja dan
persamaan dan sama sekali independen dari pemerintahan politik, dan organisasi
macam ini hanya dapat terbentuk dari aksi spontan kaum proletariat itu sendiri …
organisasi politik hanya bisa menjadi organisasi kekuasaan untuk kepentingan
sebuah kelas dan merugikan massa … proletariat, bila mereka merebut kekuasaan,
akan menjadi kelas penguasa dan penindas … “

Penaklukan
Kekuasaan

Walaupun terdengar cukup radikal, bagaimanapun juga
argumen tersebut di atas sama saja dengan resep untuk non-aksi dan malapetaka.
Seperti yang Trotsky jelaskan, “Penyangkalan terhadap penaklukan kekuasaan sama
saja dengan meninggalkan secara sukarela kekuasaan tersebut kepada orang-orang
yang memegangnya, yaitu kaum penindas. Intisari dari setiap revolusi adalah
menempatkan kelas yang baru ke dalam kekuasaan, maka memungkinkan kelas tersebut
untuk mewujudkan program kehidupannya sendiri. Tidaklah mungkin melakukan
perperangan dan menolak kemenangan. Tidaklah mungkin memimpin massa menuju
pemberontakan tanpa menyiapkan penaklukan kekuasaan.”

Kaum anarkis
melihat degenerasi Uni Soviet yang menjadi kediktaturan yang totaliter sebagai
bukti bahwa Bakunin adalah benar. Dalam kenyataannya, hanya Leon Trotsky dan
Marxisme yang bisa menjelaskan sebab-sebab dari degenerasi tersebut, menemukan
akar degenerasi tersebut bukan di dalam kepala manusia atau kepribadian, tetapi
di dalam kondisi nyata dari perang saudara, intervensi tentara asing, and
kekalahan revolusi di Eropa. Posisi dari anarkisme ini hanya membenarkan fitnah
kaum borjuis bahwa Stalinisme tidak dapat diceraikan dari
Bolshevisme.

Dulu kala, anarkisme moderen ini mendapat suatu dukungan
dari kaum buruh. Akan tetapi, sepanjang perjuangannya, kaum buruh menyadari
perlunya organisasi dalam bentuk serikat buruh, dan juga perlunya organisasi
politik yang membawa kepada pembentukan partai massa buruh. Bakunin dan
kawan-kawan menolak partisipasi di dalam parlemen, atau perjuangan untuk
perubahan kecil sebagai pengkhianatan terhadap revolusi, mereka “menolak semua
aksi politik, yang menurut mereka tidak mempunyai objektif segera dan langsung
untuk kemenangan buruh terhadap kapitalisme, dan sebagai akibatnya, pembasmian
negara.”

Marxisme berjuang untuk penaklukan kekuasaan politik oleh kelas
pekerja dan pembangunan masyarakat sosialis, dimana negara akan lenyap. Sebelum
itu, haruskah buruh menjauhkan diri dari aktivitas politik? Haruskah mereka
menolak semua perubahan kecil yang dapat meningkatkan keberadaan mereka? Tidak
ada yang dapat menyenangkan Blair (Tony Blair, perdana menteri Inggris saat itu
– catatan penerjemah) dan para bos lebih dari itu. Tentu saja tidak, kita harus
membela perjuangan untuk setiap manfaat sekecil apapun, dan menggunakan setiap
kesempatan yang terbuka untuk kita. Hanya orang yang bodoh saja yang dapat
menolak gaji yang lebih baik atau sistem kesehatan masyarakat. Melalui
perjuangan tersebut, dan perjuangan untuk merubah organisasi buruh, serikat
buruh, dan partai buruh, kita belajar dan menjadi lebih kuat dan membawa lebih
dekat hari dimana adalah mungkin untuk merubah masyarakat secara
permanen.

Perubahan Kecil di bawah
Kapitalisme

Kaum Marxis berjuang untuk setiap perubahan kecil,
dan pada saat yang sama menjelaskan bahwa perubahan-perubahan ini tidaklah aman
kalau kapitalisme berlanjut. Hanya sosialisme yang dapat menyelesaikan
problem-problem masyarakat.

Kaum anarkis moderen kita, Reclaim the
Streets dan lainnya, tidak mendapatkan dukungan dari buruh di Inggris yang
terorganisir. Akan tetapi, beberapa kaum muda radikal tertarik pada “aksi
langsung” mereka. Ada kekosongan yang ditinggalkan oleh tidak adanya organisasi
pemuda Partai Buruh yang, dalam perjuangannya untuk program sosialisme, dapat
menarik minat buruh muda dan mahasiswa. Dengan tidak adanya pimpinan dari
petinggi serikat buruh, dan Partai Buruh di pemerintahan menyerang kaum
muda-mudi, untuk sementara kekosongan tersebut sebagian diisi oleh grup-grup
seperti Reclaim the Streets.

Apakah aksi yang mereja ajukan? Di
dalam pernyataan media mereka (2/5/00), mereka menjelaskan, “Kita tidak
memprotes. Di bawah bayang-bayang parlemen yang tidak relevan, kita sedang
menanam benih sebuah masyarakat dimana rakyat biasa mempunyai kontrol atas tanah
mereka, sumber daya alam mereka, makanan mereka, dan proses pembuatan keputusan
mereka. Taman ini merupakan simbol sebuah dorongan hati untuk menjadi
independen, daripada menjadi tergantung pada kapitalisme.”

Kenyataan
bahwa parlemen tampak tak terdaya untuk menghentikan aksi PHK atau perusakan
lingkungan hanya menunjukkan bahwa parlemen tersebut melayani kepentingan
kapitalisme. Akan tetapi, di bawah tekanan dari rakyat, adalah mungkin untuk
memperkenalkan perubahan kecil untuk kepentingan rakyat biasa melalui parlemen.
Tidak ada gunanya mengumumkan bahwa parlemen adalah tidak relevan, dan
meninggalkan parlemen ketika mayoritas tidak setuju dan tetap mengharapkan
pemerintah untuk membuat kehidupan mereka lebih baik. Ini adalah cerminan dari
sikap sektarian terhadap Partai Buruh. Semua jalan yang bisa digunakan untuk
meningkatkan kehidupan kita haruslah
digunakan.

“Independensi”

Bagaimanapun juga,
“independensi” bukanlah alternatif. Independensi tidak akan membawa listrik ke
rumah kita, mendidik anak-anak kita atau mengobati kita bila kita jatuh sakit.
Kita mempunyai kekayaan untuk memenuhi semua kebutuhan masyarakat, masalahnya
adalah bahwa kita tidak memiliki kekayaan tersebut. Individualisme
(independensi) tidak bisa menjadi alternatif dari sosialisme, dimana semua
kekayaan masyarakat ada di tangan kita, dan kita semua memkontribusikan apa yang
kita bisa kepada masyarakat dengan sepadan.

Perkebunan gerilya dan
aktivitas-aktivitas serupa yang sudah bermunculan di berbagai tempat, adalah
semata-mata perpanjangan ide tua yang utopis untuk merubah masyarakat dengan
contoh. Akar dari ide tersebut datang dari filosofi idealis. Filosofi idealisme
merujuk pada sebuah konsep bahwa tindakan seseorang adalah konsekwensi dari
pikirin mereka, bahwa ide dan bukan kondisi kehidupan kitalah yang menentukan
pandangan hidup kita. Bila, melalui proses akumulasi yang berkepanjangan, kita
merubah cara berpikir seseorang, maka mereka akan hidup dengan berbeda,
kapitalisme akan menjadi mubasir. Kelas kapitalis akan duduk diam and melihat
sistem mereka jatuh runtuh.

Walau kaum anarkis percaya di dalam
perjuangan revolusioner untuk menaklukkan kapitalisme, mereka berargumen bahwa
kapitalisme harus diganti dengan … nihil. Akan tetapi, tanpa aparatus sentral,
tanpa organisasi, bagaimanakah kereta api bisa berjalan tepat waktu,
bagaimanakah operasi cangkok organ bisa diorganisir, bagaimanakah kekayaan dunia
bisa disalurkan untuk mengatasi kemiskinan dengan permanen.

Di dalam
publikasi mereka, ‘Maybe’, Reclaim the Street mengatakan kepada kita
“Pergerakan sosial radikal yang semakin tersatukan ini tidak ingin mengambil
kekuasaan, tetapi ingin menglikuidasi kekuasaan. Pergerakan ini memimpikan
banyak bentuk alternatif organisasi sosial yang otonomi, bentuk yang terkait
dengan kebutuhan lokalitas yang spesifik. Apa yang akan menjadi alternatif dari
kapitalisme untuk orang-orang yang kini tinggal di perumahan di Croydon adalah
berbeda sepenuhnya dengan apa yang cocok untuk orang-orang yang tinggal di
daerah kumuh Delhi.”

Bentuk masyarakat baru di negara yang berbeda atau
daerah yang berbeda haruslah menjadi perhatian kita. Kekuatan ekonomi yang sudah
kita bangun selama berabad-abad dapat dan harus digunakan dengan terencana dan
rasional untuk menghapus kelaparan, penyakit, dan buta-huruf. Kekuatan ekonomi
ini harus digunakan demi kepentingan seluruh masyarakat. Ini hanya bisa dicapai
dengan perencanaan masyarakat yang demokratis dimana kekuatan di ujung jari kita
dapat digunakan dengan menghargai masa depan planet ini, pemeliharaan kekayaan
planet ini, kondisi kerja kita, dan taraf hidup. Suka atau tidak, menanam
beberapa wortel di atas tanah kosong tidak akan menghapus kelaparan.

Kita
mempunyai kemampuan untuk menghapus kelaparan, tetapi hanya bila kita
menggabungkan teknologi baru, industri, dan keahlian dan partisipasi aktif dari
jutaan umat manusia.

Kekuatan ekonomi yang sudah kita ciptakan dapat
dibandingkan dengan kekuatan destruktif dari petir, liar and kacau di dalam
pasar, akan tetapi bila terorganisir ke dalam kabel dan menghantarkan listrik
akan merubah kehidupan kita. Musuh kita bukanlah industri, ataupun mesin-mesin.
Negara adalah musuh kita, tetapi negara hanyalah sebuah gejala, bukanlah
penyakit itu sendiri. Penyakitnya adalah kapitalisme dan kepemilikan ekonominya,
kepengurusan masyarakat oleh kapitalisme lah yang harus kita
gantikan.

Tugas kita saat ini adalah untuk menggabungkan kekuatan dan
pengalaman kelas buruh dan organisasinya yang sangat kuat dengan kekuatan dan
energi pemuda-pemudi dalam skala internasional, dengan dasar pengertian yang
jelas mengenai kapitalisme, negara, dan sebuah program untuk merubah masyarakat.
Ini membutuhkan sebuah kombinasi teori dan aksi. Di dalam kombinasi tersebut
terdapat kekuatan Marxisme.

Bila kau ingin berjuang melawan kapitalisme,
berjuanglah dengan senjata program sosialisme dan perspektif sosialisme.
Bergabunglah dengan kami di dalam perjuangan untuk perubahan sosialisme di
planet ini.

Judul asli: “Marxism
and Direct Action
”, 4 Mei 2000
Sumber: In Defence of Marxism,
www.marxist.com
Penerjemah: MS (Februari 2007)

Leave a Reply