Nupim mu ih le… Adhaaawwwssszz
Baru Bisa Mimpi
Amerika: Bikin film dengan tokoh superhero
imajinatif yang modern dan sangat hebat (Spiderman, Superman, dll) atau tentang
kepahlawanan orang-orang Amerika di medan
tempur dengan segala kecanggihan teknologi militernya. Segalanya tentang nilai-nilai
superioritas karakter (yang biasanya merupakan personifikasi Amerika itu
sendiri secara general), “yang lain” pokoknya jadi piguran atau cameo saja
dalam cerita produksi Holywood itu ada juga film tentang
pertempuran dengan makhluk angkasa luar. Ternyata makhluk asing ini sangat
“fasih berbahasa Inggris” dan ending-nya
mesti kalah dari manusia bumi (orang Amerika) walaupun senjatanya lebih canggih
(tonton serial TV “War of The World” – yang alien-nya bersemboyan “to live
immortal…” – atau film layar lebar “Independence Day”).
Jepang: Juga tak mau kalah. Diciptakanlah juga
tokoh Ksatria Baja Hitam atau Gogle-5 yang digandrungi anak-anak (terutama Indonesia).
Pokoknya segala kekacauan yang terjadi di muka bumi ini segera dapat diatasi
oleh jagoan-jagoan Jepang ini, dan tentu saja “yang lain” cuma jadi pelengkap
penderitaan (dalam cerita). Tak lupa juga karakter-karakter nyata macam para
“Ninja” yang di filmkan dengan bumbu drama-action yang hebat-hebat hingga jadi panutan
anak-anak kampung yang biasa makan”tiwul’ atawa “rujak” pengen makan “sushi”
pake sumpit bambu pas gaya Jepang.
Ada juga tokoh “Doraemon”
yang bikin anak-anak loncat dari loteng karena mau nyoba “baling-baling
bambunya”.
Yang hebat
adalah film “Godzilla” yang tidak hanya menampilkan monster menakutkan, tapi
juga para makhluk luar angkasa dari planet “X-Seijin” yang ternyata pedangnya
serupa Katana (pedangnya para Samurai) dan jago bela diri “karate”, “jujitsu”,
dan “kempo”.
Inggris: Bikin juga cerita tentang kisah-kisah
heroisme masa lalu (fiksi maupun non fiksi). Mulai dari tokoh fiktif macam
“Harry Potter”, “King Arthur and The Knight of Round Table”, dan “Robin Hood” sampai
yang benar-benar nyata pernah ada macam “Lawrence of Arabia” atau tentang
kehebatan diplomasi “Sir Winston Churchill” dalam Perang Dunia II.
Hongkong: Punya sederet jagoan kungfu dari biara
Shaolin, ada juga tokoh legendaris (entah nyata atau rekaan) Wong Fei Hung.
Jagoan-jagoan kungfu yang bisa terbang dan mengeluarkan sambaran energi dari
telapak tangannya, tentang polisi-polisi jago “berantem” dan hebat “nembak”
sambil salto. Bahkan nama Jacky Chan dan Jet Li sangat terkenal hingga ke
kampung-kampung di pelosok. Pokoknya nggak ada “jagoan lain” yang bisa ngalahin
jagoan di film Hongkong adu jotos.
India: Jagoan
yang tampil biasanya seorang polisi yang kalo nembak pake revolver (isi enam)
pelornya nggak habis-habis dan kalo ditembak musuh jarang bisa kena (sakti kali
yee…!). Kalo mukul anak buah penjahat cukup sekali langsung KO, tapi kalo
mukul bosnya sampe sepuluh kali juga nggak ada kelihatan bekas memarnya. Yang
paling berkesan (terutama buat orang kampung) adalah nyanyian dan goyang
pinggulnya yang aduhai…seksi banget bro…! Anak kampung mana seeh yang nggak
kenal Amithabh Bhachan atawa Sanjay Dutt, hehehe…apa lagi pas lagi make
kostum “Polisi India”
yang mirip seragam Satpol PP di Indonesia yang kerjaannya tukang nggusurin PKL
atau razia PSK.
Indonesia: Spesialis bikin sinetron yang ceritanya
tentang “mertua marahin menantu”, tentang “persahabatan jin/tuyul dan manusia”,
tentang “anak SMP yang udah jago pacaran”, tentang “kehidupan orang kaya yang
beristana impian di antara realitas pahit gubuk-gubuk kardus sebagian besar
orang Jakarta” atau film layar lebar tentang “ilmu gaib dan santet-menyantet”,
tentang kritik-kritik sosial yang “nggak jelas siapa yang sebenarnya dikritik”.
Ada juga tokoh macam Jaka Tingkir atau Si Jampang yang
sakti mandraguna (konon katanya hidup di era kolonialisme Belanda), tapi tetap
aja Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun (hingga merdeka di era ketika orang sudah
kenal bedil, pistol, senapan mesin, sampai pesawat pembom).
Maka coba-coba
jugalah Indonesia menciptakan serial TV dengan karakter superhero macam “Sang
Lima” atau “Gerhana” (padahal yang main juga blasteran orang bule), akhirnya
juga nggak laku, katanya seeh jagoannya kurang canggih (masa jagoan doyannya
makan pecel lele dan ketupat tahu, sementara sekarang ini baru bisa dibilang
hebat kalo udah jadi langganan McDonald, Pizza Hut, atau Hoka-Hoka Bento dan
minumannya mesti Coca Cola atau Pepsi).
Akhir kata,
nggak usah orang luar negeri yang ngomong, anak negeri sendiripun karena “malu”
banyak yang nggak mau mengakui para jagoan itu; “
ORANG SUSAH NGGAK USAH IKUT-IKUTAN
MIMPI, DEH!!!”
18 Juni 2007