Operator Nggak Sopan…hehehe
Ponsel dan Kelas Sosial Di Masyarakat >>> ???
Part I: Discourses
Dewasa ini perkembangan teknologi komunikasi telah mencapai taraf kemajuan
yang luar biasa dahsyatnya. Begitu cepatnya ia sehingga yang nyata dapat dilihat hanyalah bayangan
sosok suatu raksasa industri kapitalis yang bergerak maju dan menimbulkan dampak
terpaan angin sosial yang berhembus merasuki berbagai sendi kehidupan manusia
yang dapat ia susupi. Banyak perusahaan telepon genggam yang berlomba-lomba
dengan segala kreativitas dan inovasinya berusaha menciptakan produk-produk
baru yang tentunya dengan model yang baru pula – dengan tambahan fitur berupa
aplikasi-aplikasi program yang bersifat hiburan dan juga aplikasi teknologi
komunikasi tercanggihnya. Telepon genggam atau ponsel (handphone/cellular phone) yang saat ini sedang menjadi trend dan
alih-alih telah menjadi salah satu simbol status sosial bagi sebagian orang,
merupakan salah satu ujud fisik perkembangan teknologi komunikasi ini.
Pada awal kemunculannya, ponsel MMS (multimedia message service). Dengan
MMS kita tidak hanya dapat mengirim dan menerima
memiliki fungsi hampir sama dengan telepon rumah, hanya saja tanpa kabel dan
bersifat mobile atau bisa dibawa
kemana-mana sebatas daya jangkau sinyal yang dapat diterima. Tetapi, lambat
laun bentuk komunikasi dengan telepon genggam tidak lagi hanya bersifat lisan,
tetapi dapat juga dalam bentuk teks atau pesan singkat yang kita kenal dengan
SMS (short message service). Tiga
tahun belakangan ini teknologi terbaru telepon seluler yang sedang ramai di
masyarakat kita adalah
pesan dalam bentuk teks, tetapi juga gambar maupun video pendek (video clip/multimedia). Yang terbaru
adalah teknologi 3-G yang memungkinkan para penggunanya saling bertatapan muka
melalui layar ponsel.
Fenomena yang menarik SIM Card perdana
dari perkembangan ponsel ini adalah pergeseran sudut pandang masyarakat kita
terhadap fungsi dan manfaatnya pada satu dasawarsa terakhir ini. Sepuluh
tahun yang lalu ponsel masih merupakan barang langka dan terbilang mahal. Hanya
mereka dari kalangan ekonomi menengah ke atas dengan kebutuhan untuk
berkomunikasi yang lebih intens dapat memiliki ponsel. Saya masih ingat
saat-saat ketika
suatu operator seluler harganya berkisar rata-rata di atas 150 ribu rupiah.
Betapa mewahnya barang tersebut kala itu (apalagi untuk ukuran mahasiswa)
sehingga hanya orang-orang tertentu yang mampu membelinya.
Tetapi saat ini dapat kita saksikan bahwa hampir setiap orang sudah
memiliki ponsel dengan aneka macam bentuk dan teknologi mutakhir yang dimilikinya.
Benda ini memang sudah bukan barang mewah tetapi tetap saja menjadi salah satu
ikon yang trendy bagi kalangan tertentu untuk menunjukkan status sosial
seseorang. Hal ini tidak terlepas dari ekses perkembangannya yang begitu cepat
dalam iklim persaingan ekonomi dunia saat ini. Terlebih lagi bahwa produk ini
telah terposisikan menjadi bagian dari kebutuhan akan komunikasi. Padahal
apalah bedanya saat ketika benda ini belum muncul dan populer dengan saat
booming-nya sekarang ini.
Walaupun dalam rentang yang relatif singkat (dapat dihitung dalam bulan)
bermunculan ponsel dengan jenis-jenis yang terbaru, tetapi perubahan harga
tidaklah menunjukkan jeda yang signifikan. Dapat dikatakan bahwa “barang baru –
harga sama atau sedikit lebih” dan “barang baru menggeser barang lama kemudian mematoknya dengan harga yang
baru (turun)”.
Sebagai contoh adalah ponsel merk X-1 setahun yang lalu harganya satu
juta, sekarang muncul lagi jenis X-2 dengan model yang lebih canggih dan
dipatok dengan harga 1,25 juta. Mereka yang berkemampuan lebih, karena merasa
X-1 modelnya sudah ketinggalan jaman untuk bergaya, langsung merogoh koceknya (bisa
jadi dengan cara tukar tambah atau menjual murah X-1 ke dealer yang mau
menampung ponsel bekas). X-2 segera menjadi trend dan mendominasi pangsa pasar
ponsel di masyarakat. Bagaimana dengan X-1? Yang pasti harganya turun. Bagi
mereka yang setahun lalu belum mampu membeli X-1 kini sudah dapat memilikinya
dengan harga miring (sebagian karena sudah second
hand), apa lagi selama satu tahun mungkin ada beberapa orang yang terobsesi
rajin menabung untuk memilikinya.
Seiring dengan semakin massa yang menampilkan keunggulan produk
banyaknya fitur-fitur yang memperkaya fungsi dan manfaat ponsel, muncullah beberapa
perusahaan penyedia layanan operator telepon seluler berbasis GSM (Global System for Mobile Communication) maupun CDMA (Code Division Multiple Access). Diantaranya adalah Telkomsel,
Indosat, ProXL (ExcelCom), Telkom Flexi, dan Fren. Persaingan merebut pelanggan
pun semakin jelas terlihat melalui iklan-iklan di media
layanannya masing-masing.
Tidak hanya melalui Ada juga yang dengan
iklan; usaha-usaha menarik minat masyarakat juga dilakukan dengan segala
iming-iming undian berhadiah jika menggunakan jasa operator perusahaan tersebut
atau dengan berbagai bentuk bonus yang diberikan kepada pelanggan.
kreatifnya menawarkan kemudahan-kemudahan atau fasilitas-fasilitas baru dalam
berkomunikasi bahkan hingga banting harga kartu perdana dan tarif pulsa
menelepon yang gila-gilaan. Disamping
itu, trend co-branding antara
perusahaan jasa operator ponsel (khususnya CDMA) dengan produsen handphone
untuk mengeluarkan paket alternatif yang harganya lebih terjangkau mulai marak
di pasaran (Nokia dengan Telkom Flexi, Samsung dengan Fren, dsb), tambah lagi
saat ini sedang maraknya perang tarif antar operator layanan GSM maupun CDMA.
Part II: A Subjective Conclusion
Dengan demikian jelaslah
tampak bahwa perkembangan jenis ponsel pun dapat menjadi representasi kemunculan
kelas dengan label tertentu dalam masyarakat. Label tertentu dalam arti kata
bukanlah hal yang substansial tetapi hanya semacam penunjuk latar belakang
strata sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya. Substansi yang
fundamental dari terbentuknya kelas-kelas ini adalah sudut pandang dan kerangka
berpikir individu-individu yang terintegrasi menjadi bagian dalam kultur universal
suatu kelompok masyarakat.
Ada
faktor lain yang memolakan sudut pandang dan
paradigma ini serta membentuk karakter umum suau komunitas. Bisa jadi
seseorang, tetapi bisa juga kelompok lain, yang memiliki influence atau dominasi kuat disertai terutama oleh adanya unsur
“kepentingan”. Dapat pula dikatakan bahwa pengkultusan subjek atau
individu/komunitas yang tampil dengan mengusung ikon tertentu (dari suatu
produk populer yang sedang beredar) memberikan determinasi terhadap paradigma
masyarakat untuk mengarah ke kiblat(-kiblat) yang menjadi trend pada saat itu.
Determinasi yang timbul Ada tiga poros yang yang memiliki peran dominan dalam tata hidup suatu bangsa,
atas dasar kepentingan cenderung merupakan kongsi antara para pelaku pasar dan pelaku sistem
(birokrasi/elite pemerintah).
yaitu negara/pemerintah, masyarakat, dan pasar. Ketiga poros ini terkoneksi
membentuk mata rantai yang seimbang. Ketika terjadi ketimpangan dalam relasi
ketiganya, maka yang paling merasakan dampaknya adalah kelompok masyarakat.
Pemerintah sebagai
pembuat dan pemegang kontrol atas regulasi-regulasi yang berlaku mengenai
aturan main dalam suatu negara hendaknya konsekuen dalam tugasnya. Tetapi yang
acap kali terjadi justru sistemlah yang didikte oleh orang atau kelompok yang
mengikutinya (terutama kelompok-kelompok kuat dari komunitas pelaku pasar). Ini
jelas merugikan banyak pihak tapi menguntungkan satu atau beberapa pihak. Di
Indonesia begitu mudahnya hal tersebut terjadi seolah-olah “sudah biasa”.
Wow, inilah dunia…Selamat berpikir! Dan jangan lupa bertindak, sekecil
apapun itu.
Perjalanan seribu mil diawali
dengan satu langkah pertama
(Lee Kuan-Yew, former Prime Minister of
Singapore ) …kalo gak salah…
So, Do Not Give Up!!!